“… membaca buku bagaikan mengadakan percakapan dengan para cendekiawan paling cemerlang dari masa lampau, yakni para penulis buku itu. Bahkan itu merupakan percakapan berbobot karena mereka menuangkan gagasan-gagasan terbaik mereka hanya dalam buku-buku mereka.…”
-Rene Descartes, filsuf Perancis-
Saya baru saja menyelesaikan pembacaan atas buku-mengasyikkan karya seorang kiai. Ingin saya akui di awal tulisan ini bahwa apa yang saya alami ketika membaca buku karya seorang kiai ini, saya sesungguhnya sedang membuktikan kata-kata Descartes yang saya pakai sebagai mutiara tulisan ini. Sungguh, saya merasakan sekali bahwa saya memang bertemu dan berdialog dengan para cendekiawan paling cemerlang dari masa lampau.
Buku yang saya baca berjudul “Mengaji Pluralisme kepada Mahaguru Pencerahan” (Mizan, 2011) karya K.H. Husein Muhammad yang dieditori oleh Muqti Ali el-Qum. Buku Kiai Husein yang hanya terdiri atas dua bagian yang berisi total delapan bab dengan ketebalan 200 halaman lebih sedikit ini begitu kaya dan sungguh mencerahkan. Bahasa tulis yang digunakan sang kiai juga jernih dan membuat pikiran saya terus bergerak untuk menemukan sesuatu yang penting dan berharga.
Kiai Husein adalah seorang kiai-intelektual-aktivis gender, pluralisme, dan HAM (Hak Asasi Manusia). Pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon ini antara lain menjabat sebagai Komisioner Komnas Perempuan Jakarta; lalu juga pendiri Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon; dan pendiri Fahmina Institute -sebuah lembaga yang bermisi mengembangkan gerakan keagamaan kritis berbasis tradisi keislaman pesantren untuk perubahan sosial.
Buku sebagai Kapal Columbus?
Secara khusus, Kiai Husein hanya membahas tiga kitab dan ditambah dua sosok pemikir Islam. Tiga kitab yang dibahas adalah kitab-kitab yang ditulis oleh para para pemikir Islam yang sudah sangat dikenal di Indonesia-saya urutkan sesuai yang dibahas oleh buku tersebut: Imam Al-Ghazali, Ibn Rusyd, dan Ibn 'Arabi. Sementara dua sosok yang dikaji adalah Al-Hallaj dan Fakhruddin al-Razi. Hanya, disela-sela pembahasan kitab dan sosok tersebut, Kiai Husein juga menyebut beberapa tokoh Islam lain yang juga memiliki peranan penting dalam mengembangkan pemikiran Islam. Di sinilah makna kata-kata Descartes -yang saya kutip di atas-menemukan muaranya.
Saya sendiri merasakan sekali betapa buku Kiai Husein ini telah berubah menjadi seperti kapal milik Christopher Columbus ketika berada di tangan saya. Buku “Mengaji Pluralisme” ternyata tak sebatas hanya menyampaikan ilmu-ilmu penting. Ia telah membawa pikiran saya mengembara ke tempat-tempat yang sangat jauh yang belum pernah saya jumpai. Pikiran saya tak hanya diajak menjelajahi bentuk-bentuk pemikiran yang sudah mencapai puncaknya melainkan juga diperkaya dengan pemikiran baru dan unik.
Berkali-kali saya menemukan kenikmatan membaca yang tiada tara seperti ini. Kenikmatan tiada tara membaca itu telah memampukan saya untuk menyentuhkan pemikiran saya yang masih cethek dengan pemikiran para tokoh yang telah berkembang ke arah yang sangat tinggi. Tentu, tanpa bantuan seorang penulis seperti Kiai Husein, saya tentu tidak mungkin membaca (memahami isi) Al-Tafriqah-nya Imam Al-Ghazali, Bidayah al-Mujtahid-nya Ibn Rusyd, dan Tarjumah al-Asywaq-nya Ibn 'Arabi. Kiai Husein telah menyarikan kitab-kitab yang sangat sulit dicerna itu menjadi semacam ‘makanan ruhani’ yang gampang sekali saya kunyah dan telan.
Betapa lewat ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad Saw. belasan abad lalu -IQRA'- Tuhan telah menyebarkan kasih sayang-Nya yang tanpa batas?!



Google
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
Yahoo
Digg
Del.icoi.us
Windows Live
Furl
Reddit
Blogger
Technorati
Rain Concert 
Comments
RSS feed for comments to this post