Tantangan kehidupan kebangsaan yang saat ini sedang terancam ‘paganisme’, meminjam istilah Mochtar Pabottinggi, yang berurat-akar dan menjadi-jadi pada hampir seluruh sendi sosial-kemasyarakatan. Paganisme dalam artikulasi sosial-politik tiada lain adalah keterjajahan oleh hawa nafsu untuk menjadikan dan mengusung diri sebagai dewa yang berkuasa, serakah, merebut, memaksa dan menguasai. Ini dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen sosial dan politik, termasuk fatwa-fatwa keagamaan yang memberangus dan meniadakan orang lain.Publik Indonesia paska reformasi, disuguhkan berita-berita kekerasan dan pengrusakan yang masif, terjadi di hampir seluruh pelosok negeri. Mulai dari urusan yang paling sederhana seperti ketersinggungan pribadi yang berujung tawuran antar desa, sampai pada pertengkaran antar pendukung partai politik, pejabat publik, konflik etnik dan kebenaran agama yang vis-a-vis kesesatan agama. Pengrusakan dan segala bentuk kekerasan ini sesungguhnya berawal dari ketidak-siapan psiko-sosial anak-anak bangsa untuk menerima orang lain yang berbeda secara identitas, dan disulut oleh nafsu serakah untuk merebut dan berkuasa terhadap yang lain.
Perbedaan dianggap sebagai awal dari permusuhan. Sehingga kerja-kerja institusi sosial kita, didorong untuk mencermati orang-orang yang berbeda dari identitas kita dan menelusuri siapa yang melawan kepentingan kita. Semua institusi sosial kemudian berubah menjadi panggung politik Mechavillian untuk memetakan siapa kawan dan siapa lawan. Di antara kawan-kawan pun dipilah lagi, siapa kawan inti dan siapa kawan pinggir, bahkan mencurigai adanya ‘musuh dalam selimut’. Jika pun ada penerimaan terhadap perbedaan-perbedaan, tiada lain kecuali atas pertimbangan politik kepentingan, yang bersifat sesaat, pragmatis dan tanpa didasari pemikiran yang strategis berjangka panjang.
Ini ancaman serius pada semua level sosial kehidupan berbangsa. Kehidupan beragama anak bangsa, juga terkena imbas budaya politik kepentingan. Sehingga ritual keagamaan yang menggelora tidak memiliki dampak sosial yang berarti. Sebaliknya, publik Indonesia justru menyaksikan sejumlah pseudo-agama yang penuh ironi. Yaitu maraknya kejahatan sosial, yang berbarengan dengan menguatnya praktik-praktik ritual keagamaan. Di satu sisi, banyak masyarakat berbondong-bondong berebut pergi haji dan umrah, pergi beramai-ramai ke masjid berdzikir, pergi ke pengajian, menyosialisasikan model busana muslim dan melakukan tuntutan formalisasi Syari’at Islam, tetapi di sisi lain kejahatan sosial semakin meningkat dan tak terkendali. Kejahatan korupsi, kesenjangan distribusi ekonomi, rendahnya pelayanan kesehatan dan pendidikan, menipisnya kepedulian sosial, mudah terbakar konflik, rendahnya penghargaan terhadap perbedaan dan melemahnya posisi tawar perempuan dan anak-anak yang mengakibatkan mereka terus menjadi korban kekerasan dan ketimpangan sosial.
Catatan-catatan Kang Ayip ini, -yang berawal dari inspirasi pesantren- sedang memproklamasikan keislaman sosial yang sama mulia dengan keagamaan ritual, sebagaimana diprasastikan dalam surat al-Mâ’ûn. “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya”. (QS. Al-Mâ’ûn, 107: 1-5).
Dalam suatu teks hadits, Allah tidak menerima puasanya seseorang yang tidak mampu meninggalkan perkataan bohong (qawlazzuur), meskipun dia meninggalkan makan dan minum. Jika berbohong saja bisa menghancurkan ritual puasa, apalagi menipu, korupsi, merusak dan melakukan kezaliman-kezaliman kemanusiaan. Dalam buku ini, Kang Ayip sedang mengkritik kita semua, masyarakat pesantren dan umat islam Indonesia yang sedang gandrung dengan kuantitas ritual agama dan formalisasi syari’ah.
Dalam buku ini, Kang Ayip juga sedang meneguhkan pentingnya penghargaan terhadap perbedaan, tanpa harus menafikan pentingnya mencari kesamaan-kesamaan di antara perbedaan tersebut. Penerimaan terhadap perbedaan dengan penuh penghormatan atas eksistensi dan jati diri masing-masing. Proyek kesamaan, diperlukan oleh bangsa Indonesia, untuk menancapkan kesederajatan antar sesama dan memastikan kesejahteraan untuk semua. Perbedaan tidak seharusnya membawa pada perlakuan berbeda, ketimpangan relasi dan perilaku zalim terhadap yang berbeda. Pada saat yang sama, persamaan tidak sebaiknya memaksakan adanya keseragaman; baik mengenai cara berpikir, berkeyakinan, maupun berbudaya. Persis seperti dinyatakan Tsvetan Todorov, bahwa “Kita menghendaki kesamaan yang tak memojokkan kita pada keseragaman; dan kita menghendaki perbedaan yang tak menjerumuskan kita ke dalam superioritas atau inferioritas”.
Publik dunia saat ini, khususnya Amerika, memiliki Imam Feisal Abdul Rauf, Imam Masjid al-Farah New York City, yang melalui bukunya ‘Seruan Azan dari Puing WTC; Dakwah Islam dari Jantung Amerika Paska 9/11’, berupaya menyadarkan pada pentingnya ‘etika Ibrahim’ sebagai milik bersama antara dunia Barat dan dunia Islam. Etika ini menurutnya bisa merajut dan mendorong orang-orang dari kedua belah pihak; untuk merujuk pada prinsip-prinsip bersama; ketauhidan yang transendental dan sekaligus sosial, kesederajatan seluruh umat manusia, keadilan dan kerahmatan dengan tanpa kecuali. Pada saat yang sama, dengan etika Ibrahim, Imam Feisal, sekaligus mengkritik kerakusan dan keserakahan dunia Barat, yang saat ini dipimpin Amerika dengan Bush-nya, dengan korban utamanya Afghanistan, Irak dan Palestina. Imam Feisal juga mengkritik nafsu balas dendam dalam diri beberapa individu muslim, yang muncul dalam bentuk bom bunuh diri, pengeboman WTC, pengeboman Bali, dan yang lain.
Kita di Indonesia, khususnya di wilayah Cirebon memiliki Kang Ayip Usman, pengasuh Pesantren Khatulistiwa Kempek Ciwaringin. Melalui buku ini, Kang Ayip menyapa pembaca dan menyerukan untuk kembali pada keagamaan yang memberdayakan umat, dan mengkritik ketimpangan dan keserakahan sosial, serta meneguhkan penghormatan pada kemanusiaan. Kepada khalayak warga Cirebon, dan siapapun, kami ucapkan selamat membaca. Semoga buku ini memberi sumbangan pada perubahan dan harapan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil, damai, sejahtera sebagaimana misi Islam rahmatan lil ‘alamin. Wassalam.[]



Google
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
Yahoo
Digg
Del.icoi.us
Windows Live
Furl
Reddit
Blogger
Technorati
Rain Concert 