Membangun Kembali Karakter Bangsa

E-mail Cetak PDF

Khutbah Iftitâh

Hari ini 11 tahun Fahmina. Berkaitan dengan hari ini, pertama-tama saya ingin menyampaikan “Selamat Datang” di kampus Fahmina, kawasan terpadu Lembaga Fahmina, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), dan SMK Buana Bahari Cirebon. Kampus yang sejak tahun 2008 digunakan Fahmina. Selanjutnya, saya ingin menyampaikan rasa syukur yang sedalam-dalamnya dan memuji Tuhan atas anugerah yang indah ini, sambil berharap agar hari yang indah seperti ini akan terjadi untuk selama-lamanya. Saya juga ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada seluruh teman-teman dan para sahabat yang telah bekerja sama dan mengabdi bagi eksistensi dan kemajuan gerakan sosial ini. Terima kasih juga saya sampaikan kepada teman-teman jaringan dan steakholders yang telah memberikan apresiasi dan dukungannya bagi kerja-kerja Fahmina selama ini. Semoga Allah SWTmemberkati semuanya. 

Hadirin yang terhormat,

Apa yang terjadi pada Fahmina hari ini adalah sebagian dari wujud perkabulan Tuhan atas mimpi kami tahun 2000 lalu. Mimpi itu hadir ketika kami, para pendiri, melihat ruang sosial, budaya, dan politik di negeri ini baru saja terbuka lebar bagi aktivisme warga bangsa untuk ikut serta membenahi diri dan mengisi ruang-ruang yang hilang pada masa lalu yang panjang; 32 tahun. Ruang yang hilang itu adalah kemerdekaan, kebersamaan, dan keadilan.  Kami ketika itu adalah anak-anak muda pesantren dengan seluruh tradisinya, memimpikan masa depan bangsa ini secara lebih baik dan menyejahterakan bagi semua. Kami berangkat dari tradisi yang kami miliki; tradisi Pesantren. Karena itu, tema yang diusung Fahmina sejak awal berdirinya adalah “Mengangkat Tradisi untuk Keadilan dan Demokrasi”. Pada tahun yang ke-11 ini, Fahmina mengubah sedikit temanya menjadi “Bersama Tradisi untuk Keadilan dan Kemanusiaan.” Seluruh pemikiran dan aktivisme Fahmina selalu mendasarkan diri pada tema besar tersebut, dan tidak keluar dari padanya. Berdasarkan tema ini, Fahmina bekerja untuk pengembangan wacana keagamaan kritis-transformatif, pemajuan demokrasi dan hak asasi manusia, termasuk di dalamnya hak asasi perempuan, serta penguatan otonomi masyarakat.

Tak henti-hentinya saya ingin mengucap syukur alhamdulillah. Hari ini Fahmina ingin menuliskan sejarah yang monumental: pindah kantor dengan menempati gedung baru empat lantai dan me-launching 11 buku yang diterbitkan dalam usia ke-11 pada tahun 2011. Salah satunya adalah buku Kitab Kuning: “Manba’u as-Sa’âdah fiy Usus Husn al-Mu’âsyarah wa Ahammiyyah ash-Shihhah al-Injâbiyyah fiy al-Hayâh al-Zawjiyyah” (Telaga Kebahagiaan; Prinsip-prinsip Relasi Keluarga yang Ramah dan Reproduksi Sehat), karya Sdr. Faqihuddin Abdul Kodir. Saya sungguh-sungguh bangga atas karya ini. Saya berharap karya ini bukan hanya bagi masyarakat muslim Indonesia, tetapi juga bagi dunia muslim, karena ia sungguh-sungguh layak. Demikian juga saya bangga dan kagum atas karya-karya lain yang di-launching pada hari ini. Semoga Allah memberkati semuanya dan bermanfaat bagi umat, bangsa, dan negara.

Hadirin yang terhormat,

Selanjutnya, izinkan saya pada kesempatan ini menyampaikan refleksi saya atas kondisi dan situasi bangsa hari ini, dan apa yang seyogyanya kita lakukan.

Kondisi kehidupan bersama masyarakat dalam negara-bangsa dalam waktu belakangan ini sedang mengalami krisis multidimensi yang akut. Berbagai problem sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan terus mendera bangsa ini. Reformasi tahun 1998 yang semula diharapkan membuka jalan baru bagi masa depan Indonesia yang lebih baik belum memperlihatkan tanda-tanda yang menggembirakan. Sejumlah perubahan fundamental dalam struktur kenegaraan dan tata kelola pemerintahan desentralistik, dalam rangka demokratisasi yang lebih luas dan substansial, belum mampu melahirkan kondisi kehidupan kebangsaan yang dicita-citakan. Reformasi birokrasi yang dicanangkan sejak awal periode reformasi belum  menghasilkan perubahan signifikan. Situasi paling fenomenal yang amat transparan adalah praktik-praktik korupsi yang endemik. Sebagian orang menyebutkan bahwa korupsi telah menyentuh hampir seluruh lapisan masyarakat dan mengalami proses banalitas. Keadaan ini  secara niscaya menciptakan kemiskinan dan penderitaan sosial yang luas.

Di luar itu, kekerasan atas nama agama dan moralitas acapkali terjadi. Negara seakan-akan dan acap kali terkesan membiarkan kekerasan itu berlangsung. Kelompok-kelompok radikal acapkali memaksakan kehendaknya terhadap kelompok-kelompok lain terutama minoritas, melalui cara-cara kekerasan, dengan mengatasnamakan agama dan moralitas. Intoleransi antaragama tampak menonjol dan semakin meningkat. Ini menunjukkan bahwa jaminan atas kebebasan beragama dan berkeyakinan mengalami kemunduran.

Kerusuhan sosial, konflik antarwarga, konflik dan antara warga dengan aparat negara yang menelan korban masih acap kali terjadi. Kriminalitas dan kejahatan kemanusiaan lainnya hampir terjadi setiap hari di banyak tempat. Kekerasan terhadap perempuan dan anak, terutama kekerasan seksual dan perdagangan manusia (trafiking), terutama perempuan dan anak semakin merebak. Komnas Perempuan dalam siaran persnya, pada 23 September 2011, menyebutkan sepanjang tahun 2010 ada 295.836 kasus kekerasan terhadap perempuan. 1/3 di antaranya adalah kekerasan seksual. Ini berarti setiap hari ada 28 perempuan menjadi korban kekerasan seksual di Indonesia. Na’ûdzubillâh min dzâlik.

Hadirin yang berbahagia,

Sejumlah problem kebangsaan di atas adalah sebagian saja dari tumpukan realitas yang memprihatinkan Indonesia hari ini. Berbagai pihak lalu mencoba menganalisis keadaan yang karut-marut ini dan mencari akar masalahnya, dengan perspektifnya masing-masing. Pengamatan, pengkajian, dan analisis pada umumnya menyimpulkan bahwa akar dari berbagai problem sosial, ekonomi, dan politik kebangsaan tersebut adalah krisis moral atau rapuhnya karakter bangsa. Indonesia tengah mengalami deradasi karakter kebangsaan. Karakter Indonesia, yang sering disebut sebagai bangsa yang relegius, ramah, toleran, suka gotong royong, dan sejenisnya, kini telah hilang.  Hal ini akibat belum siapnya negara dan bangsa ini menghadapi gempuran arus globalisasi.

Pertanyaan krusialnya adalah dari mana krisis dan rapuhnya karakter bangsa ini bersumber? Jawaban umum atas pertanyaan ini adalah pendidikan. Pendidikanlah yang dalam segala zaman dan segala bangsa merupakan basis untuk menciptakan karakter bangsa dan peradaban manusia. Penanaman nilai-nilai kemanusiaan, dalam pendidikan, seperti ketulusan, kejujuran, disiplin, ketekunan, penghargaan terhadap hak-hak manusia, dan lain-lain mengalami proses marjinalisasi dan teralienasi yang semakin hari semakin jauh.

Sejak beberapa waktu yang lampau, penyelenggaraan pendidikan di negeri ini, lagi-lagi dalam banyak fakta lebih mengutamakan tuntutan-tuntutan formalisme dan prosedural belaka. Pada sisi yang lain, praktik pendidikan lebih memprioritaskan  dimensi akal-intelektual-teknologi, seraya mensubordinasi atau memarjinalkan dimensi pendidikan moral, budi pekerti, atau dalam bahasa pesantren “akhlâq karîmah”. Pendek kata, pendidikan di negeri ini dibangun lebih dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan praktis-pragmatis individualistik, berjangka pendek dan demi kepentingan materi semata.

Pengelolaan pendidikan seperti di atas menghasilkan implikasi yang serius. Yakni,  lahirnya kecenderungan masyarakat baik secara individu maupun kelompok, golongan dan partai politik untuk melakukan kontestasi atau mungkin lebih dekat disebut “pertarungan” untuk meraih kekuasaan ekonomi, social, dan politik. Keadaan ini tentu saja telah mendegradasi prinsip-prinsip pendidikan. Yakni, menciptakan/melahirkan generasi yang cerdas, berbudi, bertakwa dan berguna bagi keadilan, kemanusiaan, dan kemakmuran seluruh warga bangsa. Ujung dari proses degradasi dunia pendidikan ini pada gilirannya akan menyentuh nilai-nilai kebangsaan paling fundamental, yaitu  Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Kebhinekaan dan Kesatuan Bangsa. Keempatnya merupakan pilar negara-bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika situasi pengabaian dan pelanggaran atas nilai-nilai fondasi kebangsaan ini terus berlangsung tanpa bisa diatasi dengan segera, maka bangsa Indonesia berada dalam ambang disintegrasi dan keruntuhannya.

Hadirin

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti; kelakuan.[1] Akan tetapi, sebenarnya ia berasal dari bahasa Arab (al-akhlâq). Dalam bahasa Indonesia, ia bisa berarti perangai, tabiat.[2] Akhlak memiliki akar kata “khalq” yang berarti ciptaan. Yakni, sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan. Karena itu, ia melekat dalam dan tak dapat dicabut dari setiap diri manusia, dari manapun ia berasal, apapun warna kulit, jenis kelamin, suku, kebangsaan, agama dan sebagainya.

Imam al-Ghazali (450 H-1111 M) menyebut sejumlah definisi akhlaq. Salah satu di antaranya adalah “sifat (hai’ah)” yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan secara mudah (reflektif), tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Jika sifat tersebut melahirkan perbuatan-perbuatan yang indah (al-jamîlah) dan terpuji (al-mahmûdah) menurut agama dan akal, maka ia dinamakan akhlak yang baik (khuluqan hasanan), dan apabila menghasilkan perbuatan-perbuatan yang buruk (qabîhah), maka ia dinamakan akhlak yang buruk (khuluqan sayyi’an)”. Makna ini menunjukkan bahwa akhlak merupakan sifat dan gambaran jiwa (hai’ah al-nafs wa shûratuhâ al-bâthinah).

Dalam tingkat yang lebih tinggi, al-akhlâq al-karîmah akan menekankan pada kesatuan eksistensi, penyatuan manusia atas dasar cinta. Gagasan ini sepenuhnya ide-ide kemanusiaan universal. Gagasan al-akhlâq al-karîmah seperti ini bersumber dari prinsip fundamental Islam, yaitu tauhid. Artinya “tidak ada tuhan kecuali Tuhan Yang Satu”. Kalimat ini tidaklah semata-mata pernyataan verbal belaka, melainkan memiliki implikasi-implikasi sosial-kemanusiaan. Pernyataan ini sesungguhnya mengandung makna kebebasan, kesetaraan, dan penghargaan atas martabat manusia. Konsekuensi lebih lanjut dari prinsip ini adalah bahwa semua manusia di manapun adalah setara dan bersaudara. Al-akhlâq al-karîmah dengan demikian ingin menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya adalah satu, sama, dan bersaudara. Manusia menyatu dengan yang lain; pertama-tama, dalam hubungan keluarga, kemudian hubungan umat, dan akhirnya hubungan kemanusiaan. Hubungan yang terakhir ini melampaui batas-batas geografis. Manusia juga menyatu dalam kemanusiaannya pada masa lampau, kini, dan mendatang.

Jika kita harus menyimpulkan, maka akhlak, etika, atau moral menghimpun di dalamnya nilai-nilai dan norma-norma yang sepenuhnya bermakna kemanusiaan, baik dalam bentuknya yang dikesankan sebagai personal atau individual, seperti ketulusan, kejujuran, kesederhanaan, dan rendah hati maupun dalam relasinya dengan individu atau komunitas yang lain, seperti penghargaan terhadap perbedaan berpikir, kebebasan mengekspresikan pendapat dan keyakinan, penghormatan terhadap eksistensi “liyan” (the others) dan persaudaraan universal.

Hadirin yang terhormat,

Indonesia adalah negara beragama dan bangsa muslim terbesar di dunia. Apa yang terjadi di negeri ini adalah tanggungjawab kita bersama, terutama umat Islam. Problem pendidikan dan merosotnya karakter bangsa sebagaimana dikemukakan, tidak bisa diatasi dengan menyalahkan orang lain dan tidak bisa pula dengan cara semena-mena, apalagi  dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Cara-cara seperti ini tidak akan menyelesaikan persoalan, bahkan sebaliknya bisa menjerumuskan dan menciptakan citra semakin buruk atas Islam. Perbaikan Islam harus dilakukan oleh diri sendiri. Perubahan ke arah yang lebih baik untuk mewujudkan sistem sosial yang berakhlaq karimah yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan sebagaimana disebut harus menjadi kewajiban diri sendiri. Kekuatan dan kemegahan Islam harus dibangun oleh diri sendiri. Kita harus bekerja secara cerdas, sehat, akhlâq karîmah serta menjunjung tinggi demokrasi. Bersamaan dengan itu, kita juga sudah saatnya memikirkan, menafsirkan, dan merumuskan kembali pikiran-pikiran keagamaan tersebut secara kritis dan kontekstual sedemikian rupa sehingga hasilnya dapat menjadi solusi bagi problem-problem kemanusiaan kita hari ini dan mendatang. Air demokrasi, tuntutan keadilan, dan penghormatan kepada martabat manusia akan terus mengalir ke depan dan tak dapat dibendung. Ini adalah keniscayaan sejarah.

Terakhir, saya ingin menyampaikan perasaan hati saya terhadap Fahmina, dengan mengutip puisi Al-Hallaj:

مزجت روحك فى روحى كما

تمزج الخمرة بالماء الزلا ل

فإذا مسك شيئ  مسنى

فإذا أنت أنا فى  كل حال

 

Ruh-mu bercampur ruhku

Bagai anggur bercampur air bening

Bila sesuatu menyentuh-mu

Ia menyentuhku

Engkau adalah aku

Dalam segala ruang dan waktu

 

Saya selalu berharap kepada teman-teman Fahmina agar tidak pernah lelah mengabdi dan bermimpi untuk sebuah masa depan yang gemilang dan penuh cahaya.

لا يكن تأخر أمد العطاء مع الالحاح فى الدعاء موجبا ليأسك فهو ضمن لك الاجابة فيما يختاره لك لا فيما تختار لنفسك وفى الوقت الذى يريد لا فى الوقت الذى تريد

 

“Seyogyanya, tertundanya pemberian sesudah engkau bekerja tanpa lelah,  tidak membuatmu patah hati atau putus asa. Tuhan menjamin terkabulnya mimpi-mimpimu, sesuai dengan apa yang Dia pilih bukan yang kamu pilih, dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada saat yang engkau kehendaki”.

Semoga Allah senantiasa memberkati kita semua. Selamat Tahun Baru 2012.

 

Cirebon, 28 Desember 2011

[1] http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

 [2] Kamus Al-Mufid

 


Disampaikan dalam Ulang Tahun ke-11 Fahmina, 28 Desember 2011

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh

Resensi Buku

 

Bertemu dengan Para Pemikir Islam dalam Buku Pak Kiai

 Secara khusus, Kiai Husein hanya membahas tiga kitab dan ditambah dua sosok pemikir...

 

Nalar Islam Nusantara

Berdasarkan studi terhadap ormas-ormas Islam di Indonesia dapat diketahui adanya kecenderu...

Feed RSS

feed-image Feed

Add to Google

Statistik

Anggota : 447
Konten : 901
Web Link : 13
Jumlah Kunjungan Konten : 1358403

Yang Online

Kami memiliki 31 Tamu online

PEMBERITAHUAN: Alamat kantor kami yang semula di JL. SURATNO NO. 37 Cirebon, mulai Kamis, 08 Desember 2011 pindah di JL. SWASEMBADA NO. 15 MAJASEM - KARYAMULYA CIREBON JAWA BARAT 45132 Telp./Fax. 62-231-8301548