Tak ada yang menyangkal bahwa Gus Dur adalah symbol dan ikon pembaruan dalam pemikiran dan kehidupan social dalam dunia muslim, khususnya di Indonesia. Hampir seluruh hidupnya diabdikan bagi kepentingan ini. Ia hadir dengan pikiran dan gagasan yang sungguh-sungguh mengagumkan sekaligus menggairahkan bagi upaya-upaya pembaruan ini. Sumber-sumber intelektualismenya sangat luas, mendalam dan terbuka. Gus Dur tidak hanya menguasai khazanah keilmuan Islam klasik yang menjadi basis pengetahuan awalnya, tetapi juga pengetahuan social, budaya, seni, sastra, politik dan agama-agama dunia. Pengetahuan Gus Dur melampaui sekat-sekat primordialisme. Ia membaca dengan lahap dan menyerap dengan riang pikiran-pikiran para tokoh dunia, klasik maupun modern, tanpa melihat asal usul dan keyakinan mereka. Gus Dur bukan hanya memahami semuanya itu dengan sangat baik tetapi juga mengapresiasi dengan sepenuh hati.
Gus Dur adalah tokoh besar dalam dunia Islam. Seperti tokoh besar pada umumnya, pikiran dan gagasannya acap mengejutkan dan membingungkan banyak orang. Ia dianggap sering menyampaikan pikiran-pikiran yang kontroversial dan inkonsisten. Teramat banyak para pengkaji Gus Dur, apalagi masyarakat pada umumnya, terperangkap dalam kebingungan yang luar biasa untuk bisa menangkap dan memahami pikiran-pikiran, gagasan-gagasan dan langkah-langkahnya yang controversial itu. Kebingungan ini tampaknya bukan hanya karena Gus Dur memiliki pandangan yang beragam dan berbeda-beda atas masalah yang sama, bukan juga hanya karena ingin memuaskan semua pihak dengan kualitas intelektual yang beragam, tetapi boleh jadi lebih karena dia sendiri mengalami pergulatan intelektual dalam dirinya tanpa bisa dihentikan. Pikirannya terus saja berjalan dan mengejar-ngejar setiap waktu dan dalam kadar yang sangat dinamis, sejalan dengan gerak kehidupan. Boleh jadi juga karena Gus Dur, seolah tak sabar, ingin mempersembahkan pengetahuannya bagi perubahan social yang dikehendaki, sebelum masyarakat siap menerimanya. Tidaklah mengherankan jika, karena itu, tidak sedikit orang sering menyebut pikiran dan gagasan Gus Dur melampaui zamannya. Banyak orang tidak memahami jalan pikirannya ketika ia disampaikan. Tetapi dengan berjalannya waktu dan kehidupan makin cerdas, pikiran-pikiran itu baru dapat dipahami. Ini bagi saya memperlihatkan tanda seorang “hakim” ( arif, bijak bestari), seorang sufi atau “wali’ dalam konteks Indonesia. Mengenai ini saya ingin mengutip syair seorang sufi besar yang nama dan pikirannya sering disebut Gus Dur, Ibnu Athaillah al-Sakandari :
تسبق انوار الحكماء أقوالهم فحيث صار التنوير وصل التعبير
“Cahaya para bijak bestari mendahului kata-katanya. Ketika batin telah tercerahkan, kata-kata mereka sampai”.
Memikirkan Manusia
Sebagaimana para sufi besar, Gus Dur adalah seorang yang selalu berkehendak hidupnya diabdikan sepenuhnya bagi manusia dan kemanusiaan. Ia tak memikirkan dirinya sendiri. Ia memiliki sumber inspiratif bagi gagasan ini sebagaimana para sufi memilikinya. Dan itu ialah teks suci kenabian (hadits Qudsi): “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku rindu untuk dikenal. Maka aku ciptakan makhluk. Lalu dengan itu mereka mengenal-Ku”. Makhluk dalam hadits ini tidak lain adalah manusia. Manusia adalah makhluk Tuhan yang terhormat. Dia mengunggulkannya dari ciptaan-Nya yang lain. Manusialah, karena itu, yang kemudian memperoleh mandat-Nya untuk mengatur kehidupan manusia di muka bumi. Di atas landasan spiritualitas inilah Gus Dur berpikir, bergerak dan bertindak. Ia selalu ingin agar manusia dihargai dan dihormati sebagaimana Tuhan menghormatinya. Manusia adalah setara di hadapan-Nya. Maka identitas-identitas asal yang diciptakan Tuhan dan label-label yang dilekatkan masyarakat kepada manusia ; warna kulit, jenis kelamin biologis, asal-usul, agama/keyakinan, tempat tinggal dan lain-lain, hilang dari perhatian dan penilaiannya. Perhatian dan penilaian ditujukan hanya pada tingkahlakunya pada orang lain.
Manusia dan kemanusiaan adalah focus pikiran dan perhatian utama Gus Dur. Ia bekerja keras menerjemahkan prinsip-prinsip kemanusiaan ini baik melalui tulisan-tulisannya maupun dalam sikap hidupnya sehari-hari. Ia acap kali menyampaikan bahwa manusia apapun latarbelakangnya wajib dilindungi hak-hak dasarnya. Dan untuk hal ini ia paling tidak menyebut lima hak dasar manusia yang harus dilindungi dan diselamatkan itu. Hak-hak dasar perlindungan ini diadopsi Gus Dur dari teori Ushul Fiqh yang ditemukannya dalam kitab klasik Pesantren. Ia popular disebut “al-Kulliyyat al-Khams” (Lima Prinsip Universal). Yakni hifzh al-Din (hak beragama/berkeyakinan), hifzh al-Nafs (hak hidup), hifzh al-Aql (hak berpikir dan mengekspresikannya), hifz al-Irdh wa al-Nasl (hak atas kehormatan tubuh dan kesehatan reproduksi), dan hifzh al-Mal (hak kepemilikan atas harta/benda).
Adalah menarik bahwa interpretasi Gus Dur atas lima prinsip di atas banyak berbeda dengan interpretasi konvensional. Jika interpretasi konvensional tampak memperlihatkan makna eksklusivitasnya, Gus Dur justeru memaknainya secara lebih luas dan inklusif. Ia tak selalu patuh pada tafsir-tafsir konvensional-konservatif. Dalam tafsir konvensional, hak perlindungan atas agama/keyakinan, misalnya, memiliki konsekuensi kewajiban Jihad, larangan murtad (pindah agama) dan Bid’ah. Jihad dalam terma konvensional hampir selalu dimaknai perang militeristik. Gus Dur justeru memaknainya dengan sebaliknya. Ia memperjuangkan system social anti kekerasan, penghapusan hukuman mati, kebebasan beragama/berkeyakinan dan inovasi-inovasi dan kreatifitas intelektual dan kebudayaan. Komitmen Gus Dur untuk hal ini ditunjukkan, antara lain dengan keputusannya memberikan hak hidup agama Kong Hu Cu. Dalam wacara konvensional tentang “hifzh al-Nafs” (hak hidup), diinterpretasikan antara lain kewajiban Qisas, sementara Gus Dur justeru menentang hukuman mati. Tentang “hifzh al-‘Aql”, dimaknai secara konvensional memiliki konsekuensi larangan mengkonsumsi minuman keras dan hal-hal yang memabukkan, Gus Dur justeru menerjemahkannya lebih jauh dari itu dan lebih mendasar. Ia memaknainya sebagai hak atas kebebasan berpikir dan mengekspresikannya. Keberaniannya mengusulkan pencabutan TAP MPRS XXV tahun 1966, misalnya, jelas menunjukkan atas perjuangan visi tersebut. Meski usulan ini mengundang kontroversi hebat di tengah-tengah masyarakat dan Gus Dur dituduh sebagai orang yang hendak menghidupkan komunisme yang ateis, tetapi ia tetap teguh dengan pendiriannya. Gus Dur juga satu-satunya orang yang membela Tabloid Monitor ketika dibredel Pemerintah, gara-gara tulisan Arswendo Atmowiloto yang dianggap banyak orang menghina Nabi Muhammad. Bagi Gus Dur Negara tidak berhak ikut campur dalam pilihan-pilihan masyarakat atas suatu ideology atau pikiran/pendapat. Ketika masih banyak ulama menerjemahkan “hifzh al-Nasl” sekedar anjuran menikah, berketurunan, melarang perzinahan dan proteksi ketat serta ketabuan atas hak-hak seksualitas perempuan, Gus Dur memaknainya secara lebih luas dan mendalam. Ia bermakna perlindungan atas hak-hak seksualitas dan atas kesehatan reproduksi.
Melalui interpretasi-interpretasi Gus Dur sebagaimana contoh di atas tampak sekali bagaimana komitmennya memperjuangkan bagi terwujudnya penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia. Bagi Gus Dur prinsip-prinsip kemanusiaan universal atau hak-hak asasi manusia tersebut sejalan dengan dan tidak lain adalah visi agama-agama, terutama Islam. Dari basis pikiran ini, mengalirlah gagasan-gagasan Gus Dur yang lain : Pluralisme, Toleransi, Demokrasi dan tema-tema kemanusiaan lainnya.
Gus Dur tak henti-hentinya memperjuangkan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan universal ini dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Perjuangan itu dilakukannya dengan setulus hati. Baginya ia adalah akar bagi sebuah bangunan masyarakat yang adil dan sejahtera. Dan pada akhirnya ia merupakan komitmen yang nyata bagi penegakan prinsip fundamental Islam: Tauhid, Ke-Esa-an Tuhan. Dengan begitu, Gus Dur adalah seorang Muwahhid-Mukhlish (seorang yang mengesakan Tuhan dengan setulus-tulusnya). Jika sufi, martir-legendaris, al-Hallaj berteriak: ”Akulah Kebenaran”, maka Gus Dur mungkin bilang; “Akulah Kemanusiaan”. Hari ini dan seterusnya, kita sangat membutuhkan lahirnya orang-orang dan pemimpin-pemimpin seperti Gus Dur. Semoga.
Cirebon, 11-11-11
*Tulisan dibuat untuk Simposium Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 16-18 Nopember 2011, Hotel Best Western, Mangga Dua, Jakarta.



Google
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
Yahoo
Digg
Del.icoi.us
Windows Live
Furl
Reddit
Blogger
Technorati
Rain Concert 