Penanganan Masalah dengan Analisis Gender bagi Aktifis FKPM

E-mail Cetak PDF

Tulisan berikut adalah berdasarkan presentasi Iklilillah Muzayyanah, staff Fahmina-Institute Jakarta, dalam pelatihan Polmas Tahap III yang digelar Fahmina-Institute, di Hotel Trias Kota Cirebon, pada 19 Maret 2009

Mendiskusikan persoalan seputar gender merupakan hal yang cukup menarik. Terutama kaitannya dengan Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) dalam menangani masalah dengan menggunakan analisis gender. Sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat, tentunya penting untuk mengenal, memahami dan menerapkan analisis gender. Sebelum lebih jauh, saya juga ingin mengingatkan salah satu perbedaan antara gender dan seks. Dalam hal ini, seks adalah perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, khususnya pada fungsi organ reproduksi. Sedangkan gender adalah pembedaan perlakuan pada perempuan dan laki-laki yang berkaitan dengan peran, tanggung jawab, fungsi, dan ruang perempuan dan laki-laki yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti budaya, politik, hukum, ideologi, adat, dan lainnya.

Lalu kenapa gender menjadi penting? Karena dalam banyak hal, lakilaki dan perempuan memiliki lingkup pengetahuan yang berbeda. Laki-laki dan perempuan juga memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Hal ini berarti perempuan dan laki-laki memiliki cara dan penggunaan yang berbeda terhadap sumber daya lokal. Oleh karenanya, laki-laki dan perempuan mempunyai pandangan yang berbeda terhadap hal yang dianggap penting.

Hal ini perlu saya tegaskan karena berkaitan dengan pertanyaan yang ada di sekitar kita. Lalu, kenapa sih FKPM harus menggunakan analisis gender dalam penanganan masalah di masyarakat? Karena pengetahuan yang berbeda, maka mereka memiliki pemahaman yang juga berbeda. Termasuk, bagaimana kita diperlakukan dan bagaimana kita diinternalisasi oleh nilai-nilai dalam kepala kita. Semua itu harus menjadi kesadaran bagi aktivis FKPM. Artinya bahwa, meskipun kasusnya sama, tapi karena latar belakangnya berbeda, maka penyelesainnya berbeda pula.

Begitupun ketika kita memandang orang lain yang juga memiliki kesamaan dengan kita. Laki-laki dan perempuan memiliki cara pandang yang berbeda. Hal ini juga akan berimplikasi dalam pandangan yang berbeda, baik sesuatu itu penting dan tidak penting. Itu artinya, karena pengalaman yang berbeda, cara penyelesaiannya pun berbeda. Terkadang, kita juga perlu mencoba memahami, bahwa hal yang dianggap penting menurut kita belum tentu dianggap penting bagi orang lain. Jadi lagi-lagi, kita tidak bisa begitu saja menganggap bahwa kita adalah orang yang paling tahu dalam penanganan masalah, karena itu berarti arogansi. Dan arogansi sangat dilarang oleh analisis gender. Dari sini, jangan samapai merasa bahwa kita serba bisa, ingat bahwa banyak hal yang belum kita ketahui, banyak hal yang juga akan kita temukan dalam setiap kasus di lapangan yang kita ketahui.

Hubungan Gender dan FKPM
Seperti yang sudah saya bahas di atas, FKPM adalah bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Persoalan-persoalan yang dihadapi FKPM adalah persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan. Dalam hal ini, kontributor utama kesuksesan peran FKPM di masyarakat adalah masyarakat itu sendiri. Selain itu, FKPM juga menjadi bagian dari strategi pembangunan (gender mainstreaming). Jadi FKPM juga merupakan jaringan yang ada di masyarakat. Lalu masyarakat itu siapa?. Ya, ada laki-laki dan perempuan di sana, ada tua maupun muda, dan seterusnya. Sehingga lagi-lagi, jangan sampai kita men-generalisasi permasalahan. 

Dalam hal ini juga sudah jelas bahwa persoalan sosial yang dihadapi di FKPM dalam penangannannya adalah persoalan sosial. Peran serta masyarakat menjadi kontribusi tersendiri dalam masyarakat. Sehingga arogansi aktivis harus ditekan, kita juga tidak mungkin dianggap memiliki peran jika masyarakat tidak mau menerima kita. Lalu, apakah masalahnya akan selesai? Ya, tapi dengan cara mereka sendiri.

Jadi setidaknya, kita mampu meminimalisir persoalan yang muncul. Lalu kenapa gender berhubungan dengan FKPM. Karena jaringan ini memiliki peran penting dalam pembangunan Indonesia. Dimana salah satu cara dalam menangani persoalannya, menggunakan gendermindstreming. Oleh karena itu, maka penting bagi kita untuk mengetahui persoalan yang muncul di masyarakat. Ini hanya beberapa strategi yang mungkin bisa dikembangkan di lapangan. Pertama, bahwa FKPM merupakan bangunan jaringan yang terdiri dari beberapa elemen. Dimana dalam perspektif gender, di dalamnya harus mencakup komponen laki-laki dan perempuan. Contohnya tentang Polisi, apa yang bisa kita lakukan agar kita melibatkan LSM perempuan dan Polwan, jadi ini kalau bisa harus dilibatkan.

Kemudian ketika kita akan melibatkan tokoh agama di masyarakat, maka jangan hanya bapak Kyai-nya saja, tapi juga Ibu Nyai-nya kita libatkan. Agar kemudian pengalaman yang berbeda tadi, dapat diakomodir dalam upaya menguatkan problem solving. Dalam proses penyelesaian masalahnya, yang harus menjadi perspektif adalah pertama analisis sosial dan kedua analisis gender. Dua analisis itu menjadi sebuah keharusan dalam upaya penyelesaian masalah di masyarakat. Selain itu, kita juga perlu membangun rencana aksi menjadi sesuatu yang penting. Sehingga aktifitas ini tidak hanya berfikir ketika kita mendapat masalah. Jangan sampai kita hanya menunggu masalah datang.

Lalu apa rencana aksi FKPM agar persoalan sejenis tidak muncul lagi di masa yang akan datang? Mengapa ini perlu dipikirkan, karena ini menjadi penting untuk membangun rencana aksi itu tadi. Kemudian bagaimana agar pertahanan sosial itu menjadi semakin baik? Agar kita tidak sekadar menyelesaikan masalah, tapi juga menganalisis masalah untuk di kemudian hari. Jadi ada evaluasi. Dalam penyelesaian juga berhubungan erat dengan relasi gender. Lalu persoalan apa contohnya? Misalnya masalah perjudian. Judi merupakan persoalan laki-laki atau perempuan. Ya, judi juga berpengaruh pada perempuan. Ini berhubungan dengan relasi. Kemudian kenakalan remaja, ini tidak hanya bicara tentang anak-anak, tapi juga ibu.

Kemudian persoalan trafiking, yang lebih sering menjadi korbannya adalah perempuan. Kenapa? Apa yang dijual? Yang dijual adalah seksualitasnya. Dan ini menjadi hal yang harus kita hadapi di masayarakat. Contohnya daerah Indramayu yang terkenal dengan lokalisasinya.

Tetapi, apakah ada masalah yang tidak ada hubungannnya dengan gender? Tidak ada, segala sesuatu di dunia ini selalu berhubungan dengan gender. Contohnya ketika berbicara persoalan kemiskinan, siapakah yang mencari nafkah? Secara spontan, biasanya jawaban kita adalah laki-laki. Ini juga berhubungan dengan relasi gender. Laki-laki harus mencari nafkah, tetapi perempuan hanya di lingkungan domestik.

Jadi segala sesuatu di dunia ini selalu berhubungan dengan gender. Tidak akan kita temukan hal-hal apapun yang tidak ada hubungannya dengan gender. Jadi tidak ada alasan bahwa perspektif gender, tidak dibutuhkan dalam penyelesaian masalah dalam hidup ini. Termasuk aktifis, dalam hal ini kita harus memiliki skill analisis ini.

Hal Penting Apa Aaja yang Harus Dilakukan FKPM?
Dalam upaya sebagai mediator berbagai persoalan sosial yang bertujuan untuk problem solving, maka FKPM perlu membangun jaringan dengan berbagai kelompok masyarakat. Baik dengan unsur kepolisian, Pemerintah Daerah (Pemda), Tokoh Masyarakat (Toma), Tokoh Agama (Toga), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Massa (Ormas), masyarakat sipil dan lain-lain. Di sini, FKPM perlu menggunakan analisis sosial dan analisis gender dalam menyelesaikan sebuah masalah. FKPM perlu mendesain rencana aksi yang bertujuan praktis dan strategis agar sistem pertahanan dan keamanan sosial terbangun dengan maksimal.

Lalu mengapa analisis gender menjadi penting? Karena persoalan sosial sering berhubungan dengan peran gender, relasi gender, tanggung jawab gender, ruang gender (terdiri dari domestik, publik, sosial). Apakah kesenjanagn gender di tempat yang kita dampingi akan menjadi catatan? Ya, kita perlu melihat latar belakang yang menyebabkan terjadinya persoalan gender atau kasus tersebut.

Dari sini, kita mencoba menghimpun rencana-rencana aksi strategis dalam jangka waktu tertentu untuk menyelesaikan masalah. Kita juga perlu memperhatikan, bahwa ada beban tanggungjawab yang harus dibebankan laki-laki, yang sebenarnya tidak semua bisa dijalankan oleh lakilaki. Ini adalah salah satu tekanantekanan sosial yang menyebabkan terjadinya kasus. Karena itu, penting dilakukan analisis gender. Di antaranya penting untuk mengidentifikasi kesenjangan gender, mengetahui latar belakang terjadinya kesenjangan gender, menghimpun masalah-masalah yang timbul dari kesenjangan gender dan upaya pemecahannya, serta merancang langkah-langkah intervensi atau tindakan yang diperlukan.

Kita juga harus melihat apakah masih ada pembedaannya? Apakah ini melahirkan dan menimbulkan bentuk-bentuk keadilan gender? Ini ada beberapa langkah yang lebih teknis lagi. Tahap awal yang perlu dimiliki oleh FKPM adalah data terpilahnya. Coba diperhatikan, misalnya jumlah masyarakat laki-laki dan perempuannya berapa? Kemudian tingkat ekonominya berapa? Misal bagi janda, berapa tingkat ekonominya yang rendah? Yang tinggi bagaimana? Yang tidak ada suami bagaimana? Tidak ada isteri seperti apa?. Sehingga, dari pendataan itu bisa menjadi kekuatan untuk beralih ke level yang lebih tinggi. Ini juga bisa memaksa kebijakan di tingkat nasional. Kemudian pembagian kerja di masyarakat yang ada di lingkungan kita seperti apa? Apa yang kira-kira ideal untuk aktifis di masyarakat?. Misalnya para petani, dalam proses di sawah, bagaimana posisi laki-laki dan perempuan? Ada tidak beban ganda di satu pihak? kemudian siapa yang memberi kontrol untuk hasilnya? Jadi pengaturan boleh, tetapi kontrol terhadap penggunaan uang itu menjadi penting untuk dilihat. Karena dari uang, itu bisa menimbulkan hal kecil menjadi besar.

Pengambilan keputusan juga seringkali tidak melibatkan si anak. Kita lupa untuk menanyakan apa minat anak kita. Bimbingan juga harus memberikan dan mempersilahkan hak anak. Mendampingi anak, itu tidak sampai mengambil ototritas si anak itu sendiri. Misalnya, anak pengennya apa. Tanya kenapa? Ajak dia untuk berfikir, itu akan mengajak anak bertanggungjawab dalam mengambil keputusan yang diambil. Sering kali anak tidak diajak untuk mengambil keputusan. Contoh penting, jika anak kita jatuh. Biasanya kita lebih banyak menanyakan “siapa yang nakal?”, yang pada akhirnya anak tidak diajak untuk menganalisis dari apa yang dilakukan oleh sang anak. Itu adalah contoh kecil tetapi implikasinya sangat kuat. Contoh lain ketika kita melihat kebutuhan anak laki-laki dan perempuan, ada tidak hubungannya dengan persoalan gender? Dalam perspektif gender, itu penting untuk melibatkan anak. Ini sama dengan kita mencoba memfasilitasi dalam persoalan sosial.

Lalu, bagaimana agar kita bisa saling memotivasi? Ini penting sekali agar kita sebagai aktifis FKPM tidak cape sendiri. Karena semangat manusia itu naik turun. Kita harus memikirkan rencana strateginya. Agar kita tidak cape sendiri. Jadi, itu adalah berkaitan dengan monitoringnya. Dalam penyelesaian ini perlu kunjungan atau tanyakan langsung pada orangnya. Dalam hal ini kita bisa menggunakan metode trianggulasi. Kita bisa menanyakan tidak hanya dari langsung kepada korban, kita juga menanyakan kepada orang-orang sekitanya. Tapi jangan dibayangkan bahwa itu sebagai sesuatu yang rumit. Ini yang disebut sebagai trianggulasi data dalam sebuah penelitian. Ini untuk mengkaji kapasitas pengetahuan kita. Apakah kita sudah punya skill dalam mengatasi masalah? Seumpama kita dalam level tertentu, kita baru berapa persennya?

Kita juga jangan terlalu berambisi dalam menyelesaikan masalah. Kita dalam hal ini harus menyadari kemampuan kita dalam level mana. Jadi harus mawas diri. Kekurangan kita di mana? Setelah itu kita melakukan penguatan dan melakukan rencana aksi yang juga harus dipikirkan sejak awal. Terutama bagi kita sebagai aktifis FKPM. Kita harus punya tahapan dan target. Tahapan dalam beberapa tahun kemudian. Setelah itu kita evaluasi, bahwa ternyata, kemampuan kita hanya sampai sekian persen.

Kita juga menggunakan pendekatan partisipatif dalam menyelesaikan masalah, selain itu juga analisis gender dan analisis social. Dimana ketika melihat sesuatu dalam cara pandang yang berbeda. Masalahnya berbeda, tentu saja cara penyelesaiannya juga berbeda. Yang penting kita sadar bahwa kemampuan kita berbeda dan terbatas, maka kita harus memikirkan itu dengan cara mengukur kemampuan kita. Ini merupakan cara kita agar bisa memiliki kader yang kita pimpin. Kita harus tahu tentang ini. Ini baik untuk mengetahui bagaimana hasil dari apa yang akan kita kerjakan. Berhasil atau tidak. Contohnya dalam persoalan nikah. Dalam Islam, nikah itu tujuannya apa? Ketika untuk tujuan agar sakinah mawaddah warahmah, dari sini pentingkah untuk mempersoalkan siapa yang lebih banyak berperan dan lebih banyak berjasa? Tidak. Karena yang penting adalah bagaimana menciptakan suasana sakinah itu tadi. Maka si isteri juga bisa menolak jika suami berlebihan. Artinya kedua belah pihak bisa saling mengingatkan satu sama lain.

Bagaiamana itu kemudian saling menghormati dan menghargai. Kita juga tidak bisa saling mengeneralisasi. Karena apa? ketidaksiapan laki-laki jika disetarakan oleh perempuan. Selama ini dalam struktur sosial, laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa mempengaruhi isterinya, menundukkan isterinya. Tapi dalam gender, itu tidak bisa. Dalam perspektif gender, kedua belah pihak harus saling menghargai. Karena pola lama itu, tidak akan menjadikan titik awal untuk saling menghargai. Jadi dalam gender, tidak penting siapa yang lebih banyak berperan dan sebagainya. Yang penting adalah cara perlakuannya baik, ada kesepakatan, karena itulah tingkat keadilan itu tidak sama rasa. Dan yang paling tahu adil atau tidak, itu berdasarkan ukuran yang merasakan, bukan hanya yang memandang.

Pemerintah harus melihat keputusan rakyat. Dari sini juga kan berpengaruh pada apresiasi kerja masing-masing. Kemudian jika berhubungan dengan teks agama, FKPM itu kan jaringan yang juga punya jaringan dengan pa Kyai, maka silahkan untuk dibicarakan dan didiskusikan. Selama ini kita harus melakukan pengamalan gender, bukan hanya sekadar tahu dan faham. Mari kita praktikkan. []

Apa Faktor Penting dalam Analisis Gender?

Dalam analisis gender, ada empat faktor penting dalam analisis gender. Yaitu akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat.

  1. Akses. Apakah akses yang diberikan FKPM itu sama antara laki-laki dan perempuan? Lalu strateginya bagaimana? Banyak cara untuk tidak menutup akses peran laki-laki dan perempuan. Bagaimana pengambilan akses laki-laki dan perempuan. Contohnya dalam diskusi, jangan sampai menggabungkan orang yang tidak aktif dengan yang aktif, karena biasanya yang aktif selalu mendominasi yang tidak aktif. 
  2. Partisipasi. Dalam hal ini partisipasi warga sangat diutamakan. 
  3. Kontrol. Sesuatu yang diamanatkan kepada seseorang, maka seseorang itu mempunyai kewenangan untuk mengevaluasi, memonitoring, itu adalah salah satu teori analisis gender. Kontrol itu salah satu cara yang paling sinergi. Seumpama yang punya kontrol A, lalu bagaimana agar kontrol ini bisa dimiliki oleh semua pihak. Dalam hal ini, penolakan keputusan bukan dilakukan dengan suara terbanyak. Karena dalam analisis gender, hal tersebut dianggap tidak mengakomodir suara-suara kecil. Oleh karena itu, menurut analisis gender, penolakan keputusan dilakukan dengan cara musyawarah. Ini sangat islami. Karena jika dengan menggunakan suara terbanyak,maka kelompok-kelompok minoritas tidak akan muncul dalam pengambilan keputusan. Padahal kelompok minoritas itu yang seharusnya diperjuangkan dan menjadi prioritas 
  4. Manfaat. Akan menjadi ideal jika semua bisa merasakan manfaatnya, karena itu harus ada tahapan-tahapan yang menjadi target. Harus ada skala prioritas yang pada akhirnya melahirkan tindakan adil. Ini agar keadilan bisa terbangun. Apa Langkah-langkah yang bisa dilakukan FKPM?

 Langkah-langkah yang harus dilakukan FKPM, di antaranya sebagai berikut:

  1. Milikilah data terpilah, berdasarkan gender dan kelas.  
  2. Pertimbangkan perbedaan peran dan status ekonomi, pendidikan dan kesehatan antara perempuan dengan laki-laki. Kumpulkan informasi mengenai pembagian kerja berdasarkan gender. Ini berkaitan dengan bagaimana tenggung jawab produksi, reproduksi, dan sosial dibagi? siapa mengerjakan apa,di mana, kapan, dan berapa lama? Kaji bedanya kebutuhan perempuan dan laki-laki yang terkait dengan persoalan. 
  3. Analisa dan perhatikan, apakah perempuan dan laki-laki memiliki prioritas yang berbeda? dan bagaimana perbedaanperbedaan tersebut mempengaruhi persoalan yang ada? Kaji kapasitas penyerapan dan dampak. 
  4. Perhatikan bagaimana perempuan dan laki-laki dapat dan akan berpartisipasi sehingga dapat memotivasi, berbagi pengetahuan, ketrampilan dan sumber daya mereka dalam penyelesaian masalah. Kaji kapasitas institusional. Apakah FKPM memiliki kapasitas untuk memberikan pelayanan dalam penyelesaian masalah dengan skill analisis sosial dan analisis gender? Sampai batas apa kemampuan FKPM? Apakah FKPM memiliki jaringan dan pengurus perempuan dan laki-laki?  Indentifikasi lembaga.
  5. Apakah FKPM memiliki jaringan lembaga dan organisasi pemerintah atau nonpemerintah yang kegiatanya berfokus pada isu sosial dan gender yang kemungkinan bisa berkontribusi pada FKPM? Pendekatan Partisipatif. Mintai saran dan libatkan kaum perempuan maupun lakilaki secara adil dalam setiap penyelesaian masalah, dalam perencanaan, desain, dan implementasi kegiatan FKPM. Gunakan Analisis Sosial dan Analisis Gender. 
  6. Bagaimana akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat bagi laki-laki dan perempuan? Bagaimana laki-laki dan perempuan mendapatkan manfaat dari seluruh kerja dan peran FKPM?
Sumber: Blakasuta Ed. 18 (April 2009) 
 

Add comment


Security code
Refresh

Resensi Buku

 

Nalar Islam Nusantara

Berdasarkan studi terhadap ormas-ormas Islam di Indonesia dapat diketahui adanya kecenderu...

 

Post-tradisionalisme Islam dan Tradisi NU

Tradisi dalam NU dan pesantren tidak bisa disamakan begitu saja dengan tradisi gerakan Isl...

Feed RSS

feed-image Feed

Add to Google

Statistik

Anggota : 765
Konten : 1013
Web Link : 11
Jumlah Kunjungan Konten : 1528525

Yang Online

Kami memiliki 21 Tamu online