MAJASEM, Fahmina Institute merayakan ulang tahunnya yang kesebelas pada hari ini, Rabu (28/12) di halaman utama kampus Swasembada, Jalan Swasembada 15 Majasem Kota Cirebon. Perhelatan ini berbentuk rangkaian acara yang terdiri dari Lounching sebelas buku hasil kajian Fahmina dan ISIF (Institut Studi Islam Fahmina), bedah kitab Mamba’u as-Sa’adah, Fahmina gathering dan peresmian gedung baru Fahmina.
Dua hari sebelumnya (26/12), ayat demi ayat al-Qur’an dibacakan oleh hafidzoh dari mahasiswi ISIF. Keseluruhan jumlah mahasiswi hafidzoh ini adalah 12 orang, sepuluh dari mahasiswa semester 1 dan dua dari semester 3. Dengan dipimpin oleh Nyai. Hj. Afwah Mumtazah (salah satu dosen ISIF dan juga pengasuh pondok pesantren ‘Aisyah, Kempek) acara yang dimulai pada pukul 9 pagi sampai selesai tepat jam 12 siang itu berlangsung dengan khidmat.
Kekhidmatan itu juga mewujud saat acara dibuka dengan tahlil yang dipimpin oleh K.H. Mahsun Muhammad (Kajur Tasawuf ISIF). Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an oleh Ust. Buldan Burhanudin (anggota Ahmadiyah Wilayah III Cirebon) yang disusul dengan alunan sholawat nan merdu oleh Istiqomah dan Maryati (mahasiswi ISIF).
Acara pun berlanjut. Setelah sebelumnya, Ki Lungsu (grup musik kreatif mahasiswa ISIF) dengan kolaborasinya dengan sanggar Aluwung Jati memainkan simponi yang merdu di pagi hari. K.H. Husein Muhammad (Ketua Dewan Kebijakan Fahmina Instutute) menyampaikan Khutbah Iftitah (pesan pembuka), yang menjadi semacam bingkai perjalanan sebelas tahun fahmina. Acara pun berlanjut dengan lounching sebelas buku oleh Marzuki Wahid (Direktur Fahmina Institute).
Buku-buku tersebut adalah: Dauroh Fiqh Perempuan, Fiqh Buruh Migran, Islam dan Jurnalisme Kemanusiaan, Jurnal Islam Indonesia-ISIF, Kisah Perempuan: Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan, Kurikulum dan Silabi ISIF, Mamba’u as-Sa’adah, Panduan HAM Bagi Satuan Polisi Pamong Praja, Peta gerakan Perempuan Islam Pasca Orde-Baru, Ragam Kajian KDRT dan Reformasi Peradilan Pasca Orde-Baru.
Di tengah terik matahari, perhelatan dilanjutkan dengan bedah kitab Mamba’u as-Sa’adah yang dimoderasi oleh Marzuki Wahid dan dibedah langsung oleh penulis kitab, K.H. Faqihuddin Abdul Qodir. Antusiasme menjadi kesan dari segmen acara ini. Undangan yang hadir pada hari itu banyak yang berkomentar, baik ditujukan kepada kitab maupun yang ditujukan untuk penulisnya. Bahkan salah satu mahasiswa ISIF semester 1, Muchyidin, sempat mengomentari sisi gramatikal pada kitab yang berbahasa arab itu.
Setelah acara dipandu dengan baik oleh Marzuki Wahid, Dewi Laily Purnamasari (dosen ISIF) mengambil alih moderasi pada acara berikutnya, Fahmina gathering. Di segmen ini, semua jaringan Fahmina diajak oleh Dewi untuk memberikan refleksinya terhadap Fahmina. Mulai dari Kiayi pesantren, LSM jaringan, Radio Komunitas, media massa lokal, PKL (pedagang kaki lima), kelompok minoritas, dan jaringan lainnya. Semuanya memberikan pendapat terhadap perjalanan 11 tahun Fahmina Institute.
Refleksi terhadap Fahmina ini sangat berkesesuaian dengan tujuan diadakannya event. Menurut panitia penyelenggara, Rosyidin, acara slametan 11 tahun Fahmina ini diadakan dalam rangka merefleksikan perjalanan Fahmina selama lebih dari sepuluh tahun. “Sejak tahun 2000, Fahmina melakukan kajian-kajian kritis tentang kesetaraan gender, HAM, Demokrasi, dan pluralisme. Setelah sebelas tahun berkecimpung dan dikenal banyak orang, sudah saatnyalah perjalanan Fahmina selama ini kita renungkan. Demi langkah ke depan yang lebih baik bagi semua orang”, ungkap Rosyidin.
Fahmina, selain mengadakan kajian kritis, juga ikut aktif dalam mewujudkan tatanan masyarakat Khususnya wilayah III Cirebon menjadi lebih baik. Sebagaimana yang dikatakan oleh Direktur Fahmina Institut, Marzuki Wahid. “Banyak hal yang telah kami lakukan selama ini di tengah-tengah masyarakat. Diantaranya adalah menyelenggarakan pendidikan yang berbasis pesantren dan budaya lokal, pendampingan terhadap korban kekerasan dan penindasan serta menerbitkan berbagai media dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar berupa website, buletin, majalah, jurnal, buku dan kitab”, beber Marzuki dengan mantap.
Menyikapi kondisi masyarakat Cirebon yang akhir-akhir ini sangat rawan sosial. Fahmina mengambil sikap yang jelas, terutama jika ada konflik-konflik yang berlandaskan atas legitimasi agama. “Sikap kami jelas, yakni membela kaum minoritas dan kaum yang tertindas. Jangan jadikan agama sebagai legitimasi karena setiap warga negara apapun agamanya, warna kulitnya, rasnya, bahasanya dan lain sebagainya mempunyai hak yang sama”, tambah Marzuki.
Hal yang seperti demikian sangat dirasakan oleh jaringan dan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan Fahmina. Seperti yang dikatakan oleh Buldan Burhanudin, salah satu anggota Ahmadiyah. “Saya sangat bangga dan terharu dengan adanya Fahmina. Di tengah-tengah posisi kami yang terjepit dan tertekan, Fahmina datang dan mengulurkan tangan. Fahmina menjadi sahabat serta teman curhat yang sangat menghibur. Saya harap fahmina tetap bisa mempertahankan pendiriannya tersebut, di samping Fahmina juga harus bisa tetap sabar”, ujar Burhanudin, mubaligh Ahmadiyah se-wilayah III Cirebon.
Begitu juga yang dirasakan oleh tokoh Budayawan Cirebon, Opan Safari S. Hisyam, menurut beliau Fahmina sudah melakukan hal yang tepat di tengah-tengah masyarakat Cirebon dengan melestarikan Kebudayaan dalam artian yang lebih luas. “Fahmina adalah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sudah melakukan pelestarian kebudayaan dalam arti yang luas. Artinya kebudayaan bukan melulu kesenian, melainkan sebagai sistem nilai yang meliputi sosial, budaya, agama dan lain sebagainya. Pembelaan Fahmina terhadap kemanusiaan perlu diacungi jempol”, kata Opan. “Adapun dengan sebelas tahun Fahmina ini saya berharap agar Fahmina bisa menjadi lebih baik lagi dengan menyentuh masyarakat dan lingkungan secara menyeluruh”, tambah Opan.
Setelah semua rangkaian acara satu demi satu dilalui, sampai juga di acara terakhir yakni peresmian gedung baru Fahmina. Peresmian disimbolkan dengan pengguntingan pita oleh Lies Marcoes-Natsir dan Prof. Chozin Nasuha. Setelah itu, tumpeng sebagai tanda dimulai awal baru bagi semua harapan Fahmina untuk menuju puncak perjuangannya dipotong oleh K.H. Husein Muhammad. Potongan tumpeng itu kemudian diserahkan olehnya kepada Prof. Chozin. Tepuk tangan pun membahana dan acara pun berakhir dengan iringan alunan musik khas dari Ki Lungsu. (AR)

Google
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
Yahoo
Digg
Del.icoi.us
Windows Live
Furl
Reddit
Blogger
Technorati
Rain Concert 
Comments
RSS feed for comments to this post