Islam sangat menghormati dan menjunjung tinggi khazanah budaya lokal. Tanpa kekuatan lokal Islam tidak dapat tersebar ke seluruh nusantara seperti sekarang ini. Misalnya, nama pesantren dimasyarakat yang masyhur adalah nama daerah, seperti Ciwaringin, Buntet, Arjawinangun, Termas, dan Ploso, bukan nama-nama pesantren yang berbahasa Arab. Radikalisme yang dibarengi dengan anarkisme dalam bentuk aksi bom bunuh diri di Solo, juga Cirebon pasti akan mendapatkan perlawanan hampir semua umat Islam di kawasan nusantara. Karena itu berlawanan dengan Islam yang diajarkan Nabi Muhammad dan para Wali yang telah membawa Islam ke Nusantara.
Hal itu disampaikan Dr. KH. Amin Haedari, M.Pd, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan Agama dan keagamaan Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) dan Pendidikan dan Diklat (Diklat) Kemenag RI, dalam acara Public Lecture bertema Islam Indonesia Paska Orde Baru: Review Hasil Penelitian Balitbang Kemenag RI, di Conference Room Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) pada 1 Oktober 2011.
Menurut Amin Haedari, menjadi muslim liberal itu jauh lebih sulit dibandingkan menjadi muslim radikal. Menjadi muslim liberal dibutuhkan kemampuan dan penguasaan terhadap literatur-literatur yang kuat, beragam, terbuka, serta selalu berfikir dan melakukan analisa secara kritis. Menjadi muslim radikal lebih mudah karena cukup mengetahui (mendengar) sedikit tentang agama, lalu pemahaman itu diyakini sebagai kebenaran tunggal. Pola pemikiran seperti ini sebenarnya mendangkalkan visi profetis agama itu sendiri. Anarkisme, kekerasan, pemaksaan, bom bunuh diri merupakan hasil nyata dari pola pendangkalan agama seperti ini.
Oleh karena itu, supaya dapat menjaga harmonisasi berbangsa dan beragama, Islam mesti menjadi pelopor budaya perdamaian. Tanpa kembali pada visi perdamaian yang diajarkan nabi Muhammad Saw, maka umat Islam yang selalu dicap sebagai teroris, karena mengekslusifkan diri ditengah masyarakat, melakukan aksi-aksi kekerasan secara terbuka dan seterusnya. Selain Amin Haedari, Public Lecture menghadirkan Prof. Dr. KH. Chozin Nasuha, MA, Guru Besar dan Rektor ISIF Cirebon, KH. Drs. Husein Muhammad (Ketua Dewan Kebijakan Fahmina), dan dipandu oleh KH. Drs. Marzuki Wahid, MA (Deputi Rektor Bidang Riset dan Akademik ISIF). Sebelum acara Public Lecture, Dr. KH. Amin Haedari, M.Pd meresmikan Lembaga Pemberdayaan Huffadh ISIF (LPHI) Cirebon. Dalam peresmian, Amin Haedari menyampaikan bahwa LPHI adalah lembaga yang sangat penting baik bagi huffadh maupun masyarakat yang lebih luas. ISIF saya kira salah satu pelopor terdepan yang memberikan pendidikan sarjana secara gratis kepada para Huffadh di Indonesia. Public Lecture yang dihadiri ratusan mahaiswa, akademisi, para pengasuh pondok pesantren, budayawan, dan tokoh lintas agama, ini diakhiri dengan penanaman pohon oleh Dr. KH. Amin Haedari, yang didampingi oleh Prof. Dr. KH. Chozin Nasuha, MA (Rektor ISIF), KH. Drs. Husein Muhammad (Ketua Dewan Kebijakan Fahmina), KH. Faqihuddin Abdul Kodir, Lc., MA (Ketua Yayasan Fahmina), KH. Drs. Marzuki Wahid, MA (Deputi Rektor Bidang Riset dan Akademik), Nurul Huda SA (Deputi Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni), dan Abdul Rosyidi (Presiden BEM ISIF) di area Kampus ISIF Cirebon. (Hd)
Sumber: www.isif.ac.id

Google
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
Yahoo
Digg
Del.icoi.us
Windows Live
Furl
Reddit
Blogger
Technorati
Rain Concert 
Comments
RSS feed for comments to this post