Perbatasan Indonesia-Malaysia; Perbedaan di Perbatasan Itu Nyata Adanya

perbatasanSANGGAU, KOMPAS.com — Masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah perbatasan antara Kalimantan Barat dan Sarawak, Malaysia, lebih menyukai melakukan kegiatan jual-beli dan barter ke wilayah Malaysia karena mudah dijangkau dengan berjalan kaki. Hal ini disampaikan oleh Dewan Adat Dayak Kecamatan Sekayam, Yordanus Pinjamin.

"Kalau berbicara nasionalisme, komitmen masyarakat perbatasan tidak perlu diragukan lagi. NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) tetap merupakan harga mati. Namun, untuk mata pencaharian, jual-beli, atau barter, warga perbatasan lebih memilih ke Malaysia," kata Yordanus Pinjamin di Balai Karangan, Sanggau, Senin (19/7/2010).

Menurut dia, masyarakat melakukan jual-beli ke Malaysia bukan karena harga barang lebih murah, melainkan karena di negeri jiran tersebut ada penampung hasil bumi yang sudah dikenal masyarakat, sedangkan di Kalbar atau Indonesia tidak ada.

Bahkan, katanya, barang masyarakat perbatasan di negara bagian Sarawak itu masih bisa dibarter dengan barang Malaysia yang mereka kehendaki. Pinjamin mengatakan, salah satu hasil bumi yang dijual adalah sayur-sayuran dan rempah-rempahan, seperti lada. Hasil bumi ini sangat diminati warga Malaysia.

Di samping itu, kondisi jalan ke tempat jual-beli di Malaysia bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja, sedangkan akses jalan darat di pasar kecamatan masih sulit dan kondisi alam mengharuskan warga menggunakan jalur sungai.

"Kegiatan warga pergi ke Malaysia hampir dilakukan tiap hari. Sebab, untuk pergi ke sana, bisa dilakukan dengan berjalan kaki dalam beberapa jam saja, terutama di daerah Pehuluan," ungkapnya.

Di samping itu, yang membuat warga perbatasan memilih ke Malaysia adalah adanya faktor kekerabatan. Selain itu, menurut dia, tidak sedikit dari warga perbatasan yang masih memiliki kaum kerabat yang tinggal di Malaysia.

"Jadi, ketika keluar-masuk Malaysia, tidak memiliki masalah berarti. Kita ini dengan warga negara tetangga masih satu rumpun," katanya.

Pinjamin menambahkan, ketika mencuatnya ketegangan kasus Blok Ambalat, yang membuat hubungan Indonesia-Malaysia memanas beberapa waktu lalu, warga perbatasan merupakan warga yang paling resah karena warga perbatasan khawatir konflik akan terjadi.

Menurut dia, kalau terjadi konflik, peralatan Malaysia di perbatasan terlihat lebih canggih dari milik Indonesia. Akses yang dibangun negeri jiran pun jauh lebih siap, baik akses kegiatan sipil maupun militer.

Ketua Dewan Adat Dayak Sekayam itu mengharapkan, Pemerintah Indonesia harus serius dan segera dalam melaksanakan pembangunan wilayah perbatasan karena kesenjangan pembangunan antara wilayah NKRI dan Malaysia tampak secara langsung.

Sumber: Kompas.Com

 

Comments  

 
+1 #8 RE: Perbatasan Indonesia-Malaysia; Perbedaan di Perbatasan Itu Nyata Adanyabohtrung cawik 2013-09-02 16:05
tolong wani diperbatasan dibekali dengan senjata M16 untuk pembelaan NKRI
Quote
 
 
0 #7 RE: Perbatasan Indonesia-Malaysia; Perbedaan di Perbatasan Itu Nyata Adanyamerah 2013-05-02 21:50
wahai para pejabat2 indonesia ngapain sering meninjau perbatasan, kalau tidak pernah ada realisasinya, hanya ngomong besar, janji2 manis, tapi rakyat masih menderita, coba bapak2 dalami atau tinggal seminggu bersama rakyat diperbatasan, lihat tuh masyarakat perbatasan.... gimana susahnya. untuk biaya hidup, makan aja susah, harus jauh2 kemalaysia mencari nafkah. perhatikan doooong........ jangan banyak pada korupsi aja.....ja. ja...
Quote
 
 
0 #6 pemerintahan di dpr yang bobrokhendar 2012-12-22 18:40
kita tidak perlu minta tolong kepada bapak2 yg ada di DPR..percuma..karena mereka boro2 memperhatikan yang ada di perbatasan...mikirin perut mereka ajh blm pada kenyang..blm pada gndut oleh hasil korupsi...tar kalau perut nya sudah pda mledak baru mereka ingat rakyat yg di perbatasan..
Quote
 
 
0 #5 RE: Perbatasan Indonesia-Malaysia; Perbedaan di Perbatasan Itu Nyata AdanyaAlasman 2010-10-11 10:16
Tolong buat bapak-ibu di perwakilan rakyat Indonesia, lebih perhatikan lagi lah, masyarakat kita di daerah perbatasan sana......

liat aja lah, msyarakat di Sanggau malah lebih memilih berdagang di daerah Malaysia di banding kan di negara mreka sendiri......
Quote
 
 
0 #4 teknisirudi 2010-09-23 21:55
Kepada yang terhormat Para Pemimpin Rakyat INDONESIA,Tolon g Perhatikan Rakyat indonesia yang di Perbatasan WilayAh NKRI,..sebagai mana layak nya Seperti di kota - kota Besar Lainya,..Selama ini Terbelakangi Dan berusaha Mandiri,Tanpa di perhatikan Oleh Pihak Terkait..,untuk kemakmuran Daerah tersebut,Lambat nya Perekonomian dan Terkikisnya Patriotisme untuk Bangsa Sendiri..Terasa Sedih Kepulauan kita terkikis,
Quote
 
 
0 #3 teknisiasep kusnandar 2010-09-23 21:44
pak tolong diperhatikan rakyat yang di perbatasan
Quote
 
 
+2 #2 tanggapan dan opinialbertus sugino 2010-07-26 09:19
menanggapi berita tentang wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat, maka perlu diketahui bahwa setidaknya ada 4 Kabupaten di Propinsi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia Timur. Keempat kabupaten yng dimaksud adalah: Kabupaten Sambas, Kabupaten BBenngkayang, Kabupaten Sanggau, dan Kabupaten Putussibau. Pemeriksaan Lintas Batas (PLB) terdpt di Kabupaten Sambas, Kab. Bengkayang, dan Kabupaten Putussibau. Sedangkan di Kabupaten Sanggau merupakan Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB), persisnya di ENTIKONG, kecamatan Entikong. Di Kabupaten Sanggau paling sedikit ada 7 Desa yang berbatasan langsung dengan Malaysia Timur. Empat desa terdapat di Kecamatan Entikong, yakni desa Entikong (wil. Ind) berbatasan dengan Entubuh/Tebedu Malaysia; Desa Semanget berbatasan dengan Kampong Kujang Saing dan Pang Amu (Malaysia); Desa Pala Pasang berbatasan dengan Kampong Sadir dan Tepui (Malaysia), dan Desa Suruh Tembawang berbatasan dengan Kampong Sapit (Malaysia). Desa Entikong dan Desa Suruh Tembawang merupakan desa dengan jarak terdekat dengan wilayah perbatasan Malaysia yakni hanya berjarak 1 km. Selanjutnya tiga desa lainnya yang berbatasan dengan Malaysia di Kabupaten Sanggau terdapat di Kecamatan Sekayam, persisnya di desa Bungkang, desa Lubuk Sabuk, dan desa Sei Tekam.(....msh akn di sambung....)
Quote
 
 
0 #1 Keseriusan Pemerintah Dalam Masalah Wilayah PerbatasanSobih Adnan 2010-07-23 16:25
Masyarakat di wilayah perbatasan sebenarnya terbebani berbagi peran dalam karakter kewarganegaraan . Adakalanya mereka sebagai cerminan dari sistem penataan masyarakat negara yang menaunginya, di sisi lain mereka juga sebagai corong bahkan mediator relasi atas kedua negara yang berbatasan itu sendiri, atau bahkan ketika sedikit terjadi letupan dan gesekan masalah kedaulatan wilayah antar kedua negara itu, maka masyarakat di wilayah perbatasan menjadi baris pertama yang sangat memiliki resiko terbesar dari ujung konflik yang tidak diinginkan itu. Dengan catatan dan tumpukkan peran seperti itu sangat disayangkan ketika pemerintah pusat tidak memusatkan perhatiannya pada wilayah perbatasan, semakin ditinggalkan oleh pemerintah maka akan semakin nampak kerapuhan bahkan kebobrokkan negara ini dipertontonkan oleh wilayah negara tetangga.
Sekali lagi, tidak ada keseriusan dari pemerintah pusat untuk memperhatikan dan membenahi tata pembangunan dan tata sosial di wilayah perbatasan, bahkan dalam agenda kenegaraan seperti pertemuan Wakil Presiden Boediono dan Wakil Perdana Menteri Tan Sri Muhyidin Yassin bulan Juni kemarin tidak disinggung sedikitpun wacana perhatian dan pembenahan masyarakat di perbatasan wilayah kedua negara serumpun tersebut.
Masyarakat di wilayah perbatasan semakin terasa gerah dan resah ketika terkait dan terusik dengan perbedaan gerak pembangunan di wilayah negara tetangga, seperti masyarakat Desa Entikong Kab. Sanggau-Kalimantan Barat, di mana mereka mengalami ketidak-layakan fasilitas pengadaan listrik dan air seiring dengan pelayanan pemerintah yang semakin canggih bagi warga negaranya, yang tak lain ketimpangan itu nyata dan jelas terpampang di hadapan mereka.

(Hasil coretan ketika mengikuti Diskusi Media dan Buruh Migran : "Mengelola Informasi, Melindungi Buruh Migran", di Pendopo Adiyasa-JNM, Jogjakarta, 22 Juli 2010).
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Pemikiran Buya Husein


MENGANGKAT TRADISI UNTUK KEADILAN DAN KEMANUSIAAN

28/11/2013 | KH Husein Muhammad
  Kondisi kehidupan bersama masyarakat dalam negara-bangsa dalam satu dasawarsa ini tengah mengalami krisis multidimensi yang akut. Berbagai problem sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan agama terus mendera-dera bangsa ini. Reformasi tahun 1998 yang semula diimpikan sebagai pintu masuk untuk membuka jalan...
Joomla! Україна

Resensi Buku

 

Nalar Islam Nusantara

Berdasarkan studi terhadap ormas-ormas Islam di Indonesia dapat diketahui adanya kecenderu...

 

Post-tradisionalisme Islam dan Tradisi NU

Tradisi dalam NU dan pesantren tidak bisa disamakan begitu saja dengan tradisi gerakan Isl...

Feed RSS

feed-image Feed

Add to Google

Statistik

Anggota : 765
Konten : 1009
Web Link : 11
Jumlah Kunjungan Konten : 1394746

Yang Online

Kami memiliki 22 Tamu online