DISKUSI TERORISME; Bangsa Karut-marut Munculkan Terorisme

Persoalan kebangsaan yang karut-marut dinilai menjadi salah satu sumber munculnya terorisme. Pelaku terorisme frustrasi dengan kondisi negara sehingga melakukan perlawanan untuk mewujudkan kondisi ideal yang mereka cita-citakan.

Persoalan kebangsaan yang karut-marut dinilai menjadi salah satu sumber munculnya terorisme. Pelaku terorisme frustrasi dengan kondisi negara sehingga melakukan perlawanan untuk mewujudkan kondisi ideal yang mereka cita-citakan.

”Mereka beranggapan, solusinya adalah dengan menegakkan syariat Islam,” ucap Subkhi Ridho, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Islam dan Politik Yogyakarta, dalam diskusi buku Politik Para Teroris, Rabu (10/3) di Multiculture Campus Realino Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Subkhi mengatakan, terorisme di negara ini muncul karena beberapa kelompok Islam merasa dianaktirikan negara, padahal Islam menjadi agama mayoritas. Perasaan dianaktirikan ini misalnya pranata kehidupan negara dan masyarakat tidak didasarkan pada syariat Islam. Mereka beranggapan, kehidupan di masyarakat yang semakin mengarah ke sekuler, liberal, dan pluralis-me telah menyalahi hukum Tuhan.

”Bila dilihat secara global, terorisme muncul akibat kesenjangan Utara-Selatan di bidang ekonomi, politik, dan budaya. Ada hegemoni begitu kuat dari negara-negara Barat, ditambah lagi penerapan standar ganda oleh negara-negara itu, seperti isu HAM, seolah-olah mereka pembela HAM, tetapi, misalnya, ketika di Irak, mereka dinilai berlaku sebaliknya. Kondisi-kondisi seperti memunculkan frustrasi dan membuat gerakan Islam radikal semakin menggeliat,” katanya.

Subkhi mengatakan, gerakan Islam radikal ada sebelum era kemerdekaan, diawali dengan munculnya Sarekat Islam, kemudian berlanjut dengan gerakan DI/TII, hingga peristiwa pengeboman Candi Borobudur tahun 1980-an oleh Komando Jihad. Setelah era reformasi 1998, organisasi gerakan radikal Islam berbasis kultural tumbuh menjamur.
”Agendanya lebih ke motif- motif politik, bukan alasan religius. Cita-citanya adalah penegakan negara Islam, penerapan syariat Islam yang kini di beberapa daerah sudah diberlakukan,” ungkapnya.

Aktif dialog

Menurut Subkhi, untuk mencegah munculnya embrio-embrio baru gerakan radikal Islam, perlu dilakukan pemahaman agama yang tepat dengan melakukan dekonstruksi syariah dan kontekstualisasi agama. ”Harus aktif dilakukan dialog, seminar, pertemuan informal dengan yang berbeda, baik agama, etnis, budaya, maupun aliran,” ujarnya.

Lilik Krismanto, aktivis Lingkar Muda, mengatakan, hampir tiap agama memiliki kelompok- kelompok garis keras. Ini misalnya gerakan-gerakan perlawanan di Amerika Latin. (RWN/Kompas cetak)

 


 

 

 

Add comment


Security code
Refresh

Pemikiran Buya Husein

KH. Husein Muhammad

Membangun Kembali Karakter Bangsa

Hari ini 11 tahun Fahmina. Berkaitan dengan hari ini, pertama-tama saya ingin menyampaikan “Selamat Datang” di kampus Fahmina, kawasan terpadu Lembaga Fahmina, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), dan SMK Buana Bahari Cirebon. Kampus yang sejak tahun 2008 digunakan Fahmina.

Resensi Buku

 

Bertemu dengan Para Pemikir Islam dalam Buku Pak Kiai

 Secara khusus, Kiai Husein hanya membahas tiga kitab dan ditambah dua sosok pemikir...

 

Nalar Islam Nusantara

Berdasarkan studi terhadap ormas-ormas Islam di Indonesia dapat diketahui adanya kecenderu...

Feed RSS

feed-image Feed

Add to Google

Statistik

Anggota : 439
Konten : 884
Web Link : 13
Jumlah Kunjungan Konten : 1234933

Yang Online

Kami memiliki 49 Tamu online

PEMBERITAHUAN: Alamat kantor kami yang semula di JL. SURATNO NO. 37 Cirebon, mulai Kamis, 08 Desember 2011 pindah di JL. SWASEMBADA NO. 15 MAJASEM - KARYAMULYA CIREBON JAWA BARAT 45132 Telp./Fax. 62-231-8301548