Situasi politik lokal yang sedang hingar bingar menjelang Pilkada, sebagian politisi sedang kejar-mengejar untuk mendapatkan kekuasaan ditingkat daerah, baik kabupaten/kota maupun propinsi, yang seolah-olah mereka telah berprestasi sebelumnya. Kemudian penulis mencoba mengaitkan dengan pikiran Shindunata yang tertuang dalam tulisan tentang politik rai gedheg yang dikontekkan dengan kondisi politik menjelang pilpres pada tahun 2009 saat itu. Poin penting dari tulisan tersebut adalah menjelaskan tentang hilangnya rasa malu. Kata malu dalam bahasa Jawa artinya isin, wirang. Sementara kata Doyan dalam bahasa Jawa artinya suka dan Ngiler artinya meneteskan air liur dari mulutnya ketika orang sedang tidur.
Kaitan dengan kata wirang, dalam ramalan Jayabaya diceritakan bakal datang satu zaman, di mana “wong wadon ilang kewirangane, wong lanang ilang keprawiraane” (perempuan kehilangan malunya, dan laki-laki kehilangan keperwiraannya). Jika tiba saat, di mana rasa isin dan wirang itu hilang, maka manusia pun akan memasuki zaman yang menggelisahkan, yakni zaman edan.
Pada zaman edan itu, segalanya terbalik yang jahat tidak merasa isin. Karena itu, mereka yang baik pun tidak tahan, ikut edan dan tidak memperdulikan rasa malu lagi. Jadi, tanda zaman edan, bahwa manusia kehilangan rasa malunya. Manusia jadi tebal muka. Tebal muka alias tak punya rasa malu itu dalam bahasa Jawa disebut dengan peribahasa rai gedheg. Dan rai gedheg itulah menjadi ciri para politikus kita, selagi belum datang ajalnya, perbuatan yang sebenarnya memalukan, namun terus dilakukan. Isin atau malu, juga bisa berarti malu-malu, merasa bersalah, dan sebagainya. Belajar untuk merasa malu (ngerti isin) adalah langkah pertama kearah kepribadian yang luhur. Namun manusia selalu tertutupi oleh kerakusan, apa yang mestinya malu nampaknya tidak merasa, akhirnya sikap luhur itu hilang dengan sendirinya.
Kekuasaan dari dulu hingga sekarang membuat orang ngiler. Orang yang dibahunya sudah penuh dengan tanda bintang empat sekalipun, seakan belum cukup tanda bintang itu menempel dibahunya, itulah orang yang sudah berkuasa lebih dari satu kali seperti orang yang sudah tidur lelap sampai keluar air liur dari lidahnya. Toh air liurnya sedang menetes, tetap masih ngiler akan kekuasaan. Betapa nafsu akan kekuasaan tak kenal batas. Selalu membuat orang ngiler dan ngiler terus. Itulah gambaran situasi di depan mata kita saat ini. Di mana para pemimpin kita yang sudah bercokol lama sampai lumutan, tetap saja masih suka ngiler, seakan dia yang lebih pantas untuk terus berkuasa dan berusaha mendapatkan kekuasaan yang lebih atas lagi. Walaupun sudah berkuasa lama sebenarnya tidak tampak perubahan yang dirasakan oleh rakyatnya, yaitu tadi seolah-olah sudah berprestasi. Padahal yang tampak adalah dia semakin kaya dan berkuasa bagai raja yang hanya tahu memungut upeti tanpa merubah nasib rakyatnya yang miskin, bodoh dan serba kesusahan.
Orang yang sudah ngiler lama ini, nampaknya ingin tetap berkuasa, walaupun tidak secara langsung, namun dengan cara memunculkan generasi. Tetapi generasi yang harus muncul adalah dari keluarganya bukan yang lain. Seperti raja sepuh yang ingin tetap punya pengaruh, maka setelah lengser sekalipun, sekuat daya upaya dengan memaksakan diri harus muncul dari keluarganya, persis seperti dinasti kerajaan yang sedang menyusun dan memperkuat tembok pengaruh kekuasaannya, seolah yang lain tidak layak untuk berkuasa selain diri dan keluarganya, walaupun ada ksatria yang tangguh dan berwibawa daripada dirinya.
Lebih menjijikan lagi, iler kekuasaan yang menetes itu juga masih diperebutkan orang-orang lain. Mungkin orang-orang yang menadahi iler itu adalah bawahan atau begundal dari penguasa yang suka ngiler itu. Seakan dengan merasakan iler-nya, mereka juga ditetesi kekuasaan yang dimiliki atasannya. Dibelakang penguasa yang suka ngiler, itu biasanya dikelilingi perempuan-perempuan cantik, tentu perempuan-perempuan yang suka iler. Itulah sebuah wajah rai gedheg.
Dengan lidahnya yang panjang menjulur dan meneteskan iler, wajah itu sungguh tampak sebagai wajah yang tidak punya rasa malu lagi. Adakah itu adalah wajah sesungguhnya dari wajah-wajah pemimpin yang sekarang sedang berebut kekuasaan tertinggi di wilayah III Cirebon dan Jawa Barat?
Karakter lain dari rai gedheg adalaah penjilat. Ariswan Adhitama dalam karyanya “Mr. Lolipop dan Penjilat”. Kekuasaan itu manis, enak diemut, seperti permen lolipop. Tak heran bila menjelang pergantian kekuasaan, termasuk bupati dan gubernur, politikus atau partai-partai berebut untuk menjilat kekuasaan. Mereka bagaikan robot-robot kecil yang mengerubungi robot besar, yang memiliki lolipop yang paling besar pula. Alangkah enaknya, jika mereka boleh ikut menjilat lolipop yang manis itu.
Soal diberi atau tidak, itu tergantung pada siapa yang memiliki lolipop yang besar itu. Dan jangan salah sangka, belum tentu lolipop itu diberikannya untuk dijilati oleh mereka-mereka yang menginginkannya. Bisa jadi, ia tidak memberikannya sama sekali. Ia Cuma mengiming-imingi. Itulah gambaran para politikus kita. Mereka hanya ingin kekuasaan. Karena itu tak malu-malu mereka mendekati siapa yang memiliki kekuasaan untuk mendapatkan iler orang yang berkuasa.
Politik kita, seperti yang terjadi hari ini, bukanlah politik yang menawarkan program, melainkan yang menjual wajah. Wajah para politikus menghiasa apa saja, dari dinding-dinding, pohon-pohon, kaca-kaca angkutan umum sampai tiang listrik. Wajah para pemimpin dan politikus menyerbu kemana saja, ke kampung-kampung, ke kegiatan-kegiatan masyarakat sampai kerumah-rumah pribadi. Mereka begitu yakin akan wajahnya, seakan dengan wajahnya mereka bisa meyakinkan rakyat untuk memilih mereka. Mereka sungguh narsistik, dan dalam arti itu mereka adalah rai gedheg.
Wajah yang terpampang dimana-mana sebagai calon pemimpin rakyat, sungguh wajah yang menarik dan seperti pantulan dari kearifan dan kebijaksanaan? Bukan! Wajah yang kita lihat bukanlah wajah mereka yang asli. Di mana-mana kita melihat mereka tampil dengan menawan, tapi sesungguhnya mereka adalah buruk rupa dan buta. Buruk rupa dan kebutaan itu adalah pantulan dari hati mereka yang buta dan tidak tahu akan masalah dan penderitaan rakyatnya yang susah mendapatkan pekerjaan di daerah sendiri, yang susah mendapatkan perlindungan sebagai tenaga buruh migran, bahkan tidak sedikit yang menjadi korban penjualan orang atau trafiking, dan korban perenggutan hak-hak lainnya.
Lebih parah lagi wajah yang tampan dan menawan itu sebenarnya hanya sekedar topeng belaka. Wajah-wajah yang seram dan buas haus akan mangsa itu tersembunyi dan hampir tak terdeteksi. Ketrampilan untuk menyembunyikan diri itulah keahlian mereka yang ber-rai gedheg. Kita sering tertipu oleh mereka, hingga kita tak pernah sampai melihat wajah mereka yang asli.
Semua orang sebenarnya berpotensi untuk menjadi rai gedheg. Namun, penguasa atau pemimpin tampaknya adalah kelompok manusia yang paling berpotensi untuk menjadi rai gedheg. Namun betapapun ia berusaha menyembunyikan wajah yang sesungguhnya, toh tampak juga kebobrokannya.
Dalam kesemrawutan politik saat ini, alat-alat yang tidak semestinya digunakan, praktik kekuasaan yang sedang dilakoninya seakan berbicara pada kita tentang pemimpin yang suka menggunting, mencatut dan menggaruk uang rakyat, menyetrika dan menggilas mereka yang lemah dan tak berdaya, menggertak dan menakut-nakuti rakyatnya. Dia adalah penguasa yang sombong, seperti ayam jantan yang suka sesumbar dengan kokokkannya. Dan dibajunya terselip uang kertas ratusan, sebagai tanda bahwa ia kaya dan suka menumpuk harta, juga tanda bahwa ia bisa menghamburkan uangnya untuk membeli apa saja, termasuk suara untuk mendukungnya.
Melihat gambaran nyata dari para penguasa dan politikus kita, rai gedheg kelihatan juga ekspresi orang yang tak tahu diri, bingung, kacau dan tak menentu pendiriannya. Pada dasarnya, orang demikian adalah orang yang tak mempunyai prinsip. Karena tak berprinsip, ia pun dengan mudah melanggar aturan.
Kita harus kritis, jangan percaya dengan janji-janji penguasa atau calon penguasa. Kita harus terus mengingatkan mereka, agar mereka tidak membunuh masa depan kita, karena jika mereka berjanji dan berjanji lalu terus tidak banyak ditepati, maka sebenarnya mereka sedang membunuh masa depan kita. Oleh karena itu, kritis terhadap mereka yang sedang mengobral janji sangat penting. Dan harus berani menganggap janji mereka hanyalah pagi tempe sore tahu. Artinya sama saja tidak ada yang berubah.
Kalau kita ingat dengan lagu Obbi Messak yang tenar pada tahun 80- an, salah satu bait syairnya; “Malu aku malu pada semut merah, yang berbaris di dinding menatap ku curiga seakan penuh tanya.” Lagu ini kalau para politisi kita sadar, bahwa orang yang diilustrasikan sedang berdiri didinding, malu dengan semut yang berbaris, sementara kelakuan politisi tidak sekedar berdiri depan dinding yang tanpa rasa malu, tapi memindahkan dinding-dinding yang mestinya tetap berdiri dibangun untuk kesejahteraan rakyat, malah dinding-dinding itu berdiri untuk rumahnya sendiri tanpa rasa malu, itulah politisi kita yang ber-rai gedheg.
Penulis adalah Manajer islam dan Gender Fahmina Institut, dan staf pengajar di Jurusan Pemikiran Islam (PI) ISIF Cirebon.



Google
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
Yahoo
Digg
Del.icoi.us
Windows Live
Furl
Reddit
Blogger
Technorati
Rain Concert 