Pendidikan Islam sangat bermanfaat untuk membangun karakter bangsa, karena Islam di Indonesia bukan termasuk Islam fundamentalis maupun Islam liberalis. Islam di tanah air kita adalah Islam ummatan washatan. "Salah satu persoalan krusial bangsa ini adalah membangun karakter bangsa."
Perilaku reaktif, emosional, dan anarkhis sudah menjadi tontonan keseharian sebagai yang diberitakan media massa. Bahkan ironisnya, terkadang yang tawuran justru antar pelajar yang tidak laik berbuat demikian. Hal ini sebagai indikator bahwa masyarakat kita cenderung menjauh dari nilai-nilai luhur bangsa. "Oleh karena itu, nilai-nilai luhur bangsa perlu digali kembali." tandasnya.
Islam Indonesia memiliki ciri yang sangat khas. Karena Indonesia sebagai bangsa majemuk memiliki keragaman. Tapi keragaman itu bisa terwadahi dalam Islam. Semua pihak sebagai warga dunia yang berwajah pluralistik harus bisa hidup bersama di atas sebuah prinsip untuk saling meneguhkan dan memperkuat antara satu dengan lainnya.
"Dalam konteks ini, wacana keislaman dalam ruang publik, keindonesiaan dan kemanusiaan haruslah dibingkai dalam satu tarikan nafas yang harmonis,"
Mozaik Islam
Pada dasarnya, tema mozaik Islam ini menyentuh “relasi Islam dan tradisi lokal” “al-islam wal-‘adah/al-urf’”, “graet and low traditions”, “central and local”, “Islam and local wisdom,” dan semacamnya. Mencari dari kiblat yang sudah estblis: ada kecendrungan kajian Islam di Indonesia justeru terputus dengan kekayaan lokal yang terdapat di Indonesia sendiri. Tidak jarang, kajian yang ada hanya terjebak pada tradisi-tradisi yang justeru terdapat pada dan berasal dari Indonesia.
Kita sering kali disibukkan oleh pencarian kiblat dan bukan membangun kiblat sendiri. Perdebatan kemudian pada apakah kita berkiblat ke Timur-Tengah atau ke Barat. Ada yang mencoba melepaskan diri dari kiblat Timur-Tengah tetapi pada waktu yang sama justeru berkiblat ke Barat. Kita lupa pada kekayaan kita sendiri, dan menjadikan pusat-pusat kajian Islam yang kita miliki justeru tidak menarik minat orang luar Indonesia.
Karena itu, kajian tentang para ulama lokal dan pemikirannya dan juga kekayaan lokal lainnya perlu terus ditingkatkan. Dann hal ini memiliki implikasi amat jauh dalam hal kajian dan penelitian tentang Islam Indonesia dan Islam di Indonesia. Perlunya peningkatan penelitian tentang sumber-sumber berupa manuskrip atau lainnya dan juga pemahaman case-study Suku Dani di Papua, hanyalah merupakan contoh bagaimana pentingnya sumber-sumber lokal dan kolaborasi dengan para tokoh dan sesepuh lokal.
Ruang Publik
Barangkali ada ungkapan yang perlu dicermati, yakni: space, right, and freedom. Space artinya setiap orang, kelompok, atau institusi perlu diakui eksistensinya. Right, artinya setiap orang, kelompok, atau institusi perlu diakui hak-haknya. Freedom, artinya setipa orang, kelompok, atau institusi perlu diakui akan kebebasannya.
Dari hal tersebut, maka TOLERANSI dan KESETARAAN menjadi dua kata kunci yang perlu mendapat perhatian semua pihak. Ruang publik tidak bisa hanya didefinisikan dan ditentukan oleh satu orang, kelompok, atau institusi tertentu. Sekedar ilustrasi, adalah contoh tentang PAKAIAN:
Apakah pakaian tersebut masuk dalam wilayah kebebasan (mutlak?) sehingga setiap orang bisa berpakaian sesuai dengan kehendaknya?
Atau pakaian tersebut terikat oleh tradisi tau budaya. Jika masuk wilayah tradisi atau budaya, nampaknya ada kecendrungan setiap tradisi dan budaya selalu menghormati pakaian yang menutup sebagian besar tubuh (rapi dan sopan) sebagaimana tercermin pada pertemuan-pertemuan internasional. Dalam konteks ini, eksploitasi tubuh dan penonjolan aspek-aspek sensual menjadi sesuatu yang harus dihindari. Tetapi juga harus ada ruang yang memberikan kebebasan berpakaian sesuai dengan waktu dan tempat (misalnya: pakaian di rumah, di kolam renang, olah raga, dan lain sebagainya).
Setiap orang, kelompok, atau institusi diberi kesempatan untuk memilih model pakaian sesuai dengan keyakinannya sekaligus memberi kesempatan kepada orang atau kelompok lain untuk memilih sesuai ddengan keyakinannya. Perlu juga diupayakan kesepahaman tentang pakaian yang dipandang “layak” atau “tidak layak”, hal ini penting agar tuduhan pelanggaran hak-hak asasi manusia memiliki acuan dan juga landasan yang jelas.
Nampak fiqh Aqliyyat perlu segera mendapat perhatian. Ilustrasi pakaian dan fiqh Aqaliyyat bisa adipaerluas menyangkut hal-hal yang lain, tidak terkecuali masalah terorisme. Dalam hal ini, pertarungan ide (dan bukan pertarungan kekuatan, kekuasaan, apalagi disertai kekerasan) menempati posisi sentral. Barangkali di sini makna sejati dari kekuatan ilmu dan pengetahuan.
Karakter Bangsa
Ada satu ungkapan barangkali menarik dicermati, yakni: nilai (values), sistem, atau kepemimpinan. Nilai yang baiktanpa didukung sistem yang baik maka akan persoalan. Dan sistem yang baik tanpa didukung kepemimpinan yang baik juga akan lepas dari berbagai masalah. Di sinilah muncul tentang pentingnya apa yang seringkali disebut dengan HOW TO (bagaimana caranya). Bersih itu perlu dan penting. Belajar itu perlu dan penting. Tetapi bagaimana cara melakukan semua itu (how to).
Pada dasarnya ada dua langkah:
Jangka pendek. Yakni upaya-upaya (yang mungkin bersifat ad-hock) untuk mengatasi persoalan kebangsaan yang sebagian orang menyebutnya dengan karut-marut. Jangka panjang. Pendidikan menempati posisi amat sentral, termasuk pendidikan dalam keluarga.
Sekedar ilustrasi sederhana. Tidak jarang orang tua menyuruh anaknya membeli sesuatu. Setelah selesai dan ada uang kembalinya, biasanya uang kembalinya diberikan kepada anak tersebut atau bahkan tidak ditanya. Hal yang sama juga terjadi ditempat kerja. Tentu, memberi uang kembali itu baik, tetapi dari sisi pendidikan, hal tersebut mendidik, terutama dalam konteks pertanggungjawaban terhadap sisa uang yang ada. (RS).



Google
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
Yahoo
Digg
Del.icoi.us
Windows Live
Furl
Reddit
Blogger
Technorati
Rain Concert 