Selepas berbuka puasa dan sholat Maghrib hari senin kemarin –di akhir bulan Ramadlan 1432H-, sebagian Muslim Indonesia mungkin tak langsung memberanjakkan diri untuk mempersiapkan sholat tarawih seperti biasanya, kali ini menonton siaran langsung sidang itsbath penentuan hari raya di stasiun-stasiun televisi swasta dirasa lebih menarik, Termasuk saya. Karena, informasi tentang perbedaan jatuhnya hari raya Idul Fitri antar organisasi masyarakat dan golongan sudah sangat terasa di luar sana.Ada beberapa hal yang menarik selama saya memperhatikan sidang penting umat Muslim yang disiarkan secara nasional tersebut. Pertama, paling tidak sebuah agama tidak hanya melulu membicarakan akhirat, surga, neraka, dan lainya, melainkan mendukung perkembangan pengetahuan sebagai media yang justru menjadi hal dasar dalam menentukan sebuah ibadah. Dalam hal ini astronomi, tentu banyak dilibatkan dalam penentuan awal bulan syawwal sebagai hari raya Idul Fitri bagi umat Islam.
Kedua, ternyata keberagaman bukan hanya dalam pembicaraan antar kehidupan bertetangga agama-agama, akan tetapi dalam sebuah bangunan kokoh satu agama akan terdiri dari berbagai kamar dan ruang yang berbeda, dan seperti sebuah sikap yang diberikan kepada tetangga, keberagaman inipun harus tetap dipahami secara dinamis. Perbedaan sistem pemahaman dan metode penentuan hari raya oleh beberapa ormas Islam harus dijadikan media kerukunan dalam satu buah bangunan rumah bersama, sebelum ke tetangga.
Ketiga, Pemerintah sebagai satu-satunya sosok yang dapat dijadikan tumpuan penyelarasan masyarakat dalam hal apapun, terlebih mengenai hal seprivat ibadah, maka harus lebih tegas dalam menjamin kebebasan beribadah, bukan mengintervensi hal-hal yang kurang diperlukan lainnya.
Selama sidang itsbat dilaksanakan, sempat saya catat kebanggaan menjadi seorang Muslim, keseriusan dalam menentukan hal-hal yang seolah bersifat hanya seremonial dikemas dalam suatu kebersamaan lebih yang sangat dibutuhkan oleh umat Isam. Apalagi berbicara mengenai keilmuan astronomi, mereka –para ulama- peserta sidang menyempurnakannya dengan dalil-dalil syar’i. Hal ini semestinya dipahami sebagai sebuah kebanggaan, atas Indonesia dengan berbagai kecerdasan ulama.
Tahun 2007 lalu, saya berkesempatan mewakili Kab. Cirebon untuk mengikuti workshop Ilmu Falak tentang pelatihan metode hisab dan ru’yat selama tiga hari yang difasilitasi olehKemenag RI di Lembang-Bandung, dari sana saya dapat mengetahui bahwa dalam hal penetapan penanggalan sebuah kalender dibutuhkan komposisi keilmuan yang sangat tidak sederhana, rumit, dan membutuhkan kecerdasan lebih. Inilah yang harus saya baca ketika berdiri sebagai masyarakat, yang kadang tebingungkan oleh keputusan pemerintah dalam penentuan hari raya yang seolah ditunda-tunda, padahal memang masih banyak hal yang mesti dilakukan lagi.
dan Akhirnya,
“Selamat Idul Fitri 1432 H. Iidun Sa’iid; a’aadahuLlahu ‘alaikum bissa’aadatai walkhair warrafahiyah. Wakullu ‘aamin wa antum bikhair!”
*) Penulis adalah Ketua Umum ASJAP Institute,
Pegiat Umburch Circle - Jakarta, serta Mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon
Makalah ini dimuat dalam Buletin Media Pencerahan Edisi Spesial Idul Fitri 1432 H, 31 Agustus 2011



Google
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
Yahoo
Digg
Del.icoi.us
Windows Live
Furl
Reddit
Blogger
Technorati
Rain Concert 