Benarkah Ahli Tariqot Berpolitik?

E-mail Cetak PDF
“Orang tasawuf sering dianggap biasa berzuhud dan jauh dari politik. Tapi di Indonesia, kita justeru lihat bahwa tarekat-tarekat sering memainkan peranan politik cukup menonjol” itulah penggalan kalimat yang disampaikan Martin van Bruinessen salah satu narasumber dalam acara ”Diskusi pada Halaqoh Tareqot Dan Politik Ulama” Kamis, 2 April 2009 di gedung MANU Buntet Pesantren Cirebon. Acara ini diselenggarakan dalam rangka Haul al-Marhumin sesepuh dan warga Buntet Pesantern tahun 2009. Halaqah ini di buka oleh KH. Wawan Arwani selaku ketua YLPI Buntet Pesantren. Selain Martin, hadir sebagai narasumber KH. Husen Muhammad, dan Habib Quraisy Baharun, dengan  moderator Nuruzzaman.M.Si

Lebih lanjut, Martin menyinggung teori bahwa Islam pertama-tama masuk dan diterima di Indonesia melalui tasawufnya. Menurutnya, teori itu sangat masuk akal tetapi sulit dibuktikan karena tidak ada sumber asli yang cukup tua. Banyak orang menganggap bahwa tasawuf dan fiqh merupakan dua disiplin ilmu Islam yang bertentangan, akan tetapi hampir semua penulis sufi Indonesia awal, seperti Abdurrauf Singkel, Ar-Raniri dan Abdussamad Palembang, selain menulis karya tasawwuf, juga mengarang kitab fiqh. Martin mengatakan bahwa naskah-naskah tertua yang masih ada, yang dibawah ke Eropa sekitar tahun 1600, mengandung ajaran fiqh dan akidah di samping tasawuf.
 
Martin juga mengatakan ada banyak aliran tarekat yang ada di Indonesia. Selain tarekat Qodiriyah dan Syattariyah, yang kemunculannya sudah lebih awal, ada juga tarekat Sammaniyah, Naqsyabandiyah Khalidiyah, Qadiriyah wan Naqsyabandiyah, Tijaniyah,  dan Idrisiyah, Tarekat Syattariyah pertama kali dikembangkan oleh Abdul Ra’uf seorang ulama besar dari Aceh, beliau memiliki murid Burhanuddin di Sumatera Barat, dan murid Burhanuddin bernama Abdul Muhyi menjadi guru di Pamijahan, di pesisir Selatan Tasikmalaya. Dari Pamijahan kemudian tarekat Syattariyah disebarkan ke seluruh pulau Jawa, termasuk wilayah Cirebon.  

Tarekat lainnya, Sammaniyah yang digagas oleh Abdus Samad al-Falimbani. Tarekat Sammaniyah dzikirnya keras dan dipakai orang untuk mengembangkan kanuragan dan kekebalan (ilmu kasekten), yang memicu semangat dan keberanian para pengamalnya. Tarekat ini pernah menjadi sebuah  wadah gerakan perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda. Seperti juga beberapa tarekat belakangan, tarekat Sammaniyah juga merupakan cikal bakal bagi pergerakan perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda. Tarekat ini barangkali tarekat pertama yang memiliki pengikut massal di Indonesia – tarekat-tarekat lebih awal diamalkan secara perseorangan saja.

Tarekat Tijaniyyah adalah tarekat yang mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1920-an namun sempat menuai kontroversi tentang kemu’tabarannya. Pendiri tarekat tersebut, mengaku bertemu langsung dengan Nabi SAW dalam keadaan jaga dan diajarkan amalan-amalannya. Dengan demikian, tarekat Tijaniyah punya silsilah sangat pendek. Hal ini mirip  dengan tarekat-tarekat yang bersumber kepada Syaikh Ahmad ibn Idris, seperti Sanusiyah dan Idrisiyah. Sanusiyah merupakan fenomena unik karena peranannya dalam memersatukan dan memerdekakan Libya, di mana Syaikh tarekat ini telah menjadi raja pertama Negara Libya yang merdeka. Dalam kasus ini, tarekat menjadi pendiri Negara.

Tarekat lainnya adalah tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah. Tarekat ini yang memainkan peranan penting dalam pemberontakan yang paling besar abad ke-19, yang terjadi di Banten pada tahun 1888, dan juga dalam sejumlah pemberontakan lebih kecil. Tarekat bisa memainkan peranan itu karena tarekat merupakan jaringan luas dengan struktur wibawa yang jelas. Syaikh punya sejumlah khalifah di berbagai daerah yang masing-masing punya pengikut lokal. Adanya hubungan sangat erat antara syaikh atau khalifah dan pengikut-pengikut mereka menyebabkan tarekat menjadi wadah untuk mobilisasi massa dan untuk menyalurkan keinginan orang banyak. Pada masa Orde Baru, baik Golkar maupun PPP berusaha menggunakan potensi tarekat dalam memobilisasi massa, terutama pada saat kampanye pemilihan umum, tambah Martin.

KH. Husein Muhammad, ketua Dewan Kebijakan Fahmina dan  pengasuh Pondok Pesantren Dar al Tauhid Arjawinangun, Cirebon mengatakan,  munculnya tarekat karena ketidakberdayaan menghadapi tantangan-tantangan zaman. Tidak mampu menentang kondisi-kondisi dalam dirinya. Pada saat awal berkembangnya tarekat, dunia muslim sedang ditekan oleh dua sisi, barat dan timur. Sebenarnya syariat dan tarekat sama saja. Bedanya syariah jalan menuju Allah dengan jalan dhohir kalau  tarekat jalan menuju Allah dengan jalan batin. Kalau orang NU sepakat dengan faham wahdatul Wujud maka ia bisa menjadi mu’tabarah. Penyingkapan terhadap rahasia-rahasia Ilahi bisa menyebabkan kufur. Inilah mengapa ajaran wahdatul wujud tidak berkembang (dilarang) di Indonesia.

Lebih jauh Kiai Husein yang biasa panggil Buya ini mengatakan “tarekat sebagai sebuah gerakan politik saat ini sudah tidak ada, tapi kalau dimanfaatkan atau terlibat dalam persoalan politik barangkali iya”.

Acara ini mendapatkan perhatian cukup besar masyarakat. Hal ini terlihat peserta yang hadir serta banyaknya pertanyaan yang muncul pada saat sessi dialog. Para peserta yang hadir merupakan perwakilan dari berbagai lapisan masyarakat yang terdiri dari kyai dan ustadz pesantren, guru-guru lembaga pendidikan, dokter, LSM, dan dari unsur perguruan tinggi. Menurut Maimunah Mudjahid, panitia acara yang juga aktifis Fahmina-institute mengatakan bahwa, acara halaqoh ini bertujuan untuk mengetahui sejarah tarekat dan silsilahnya serta perkembangannya di Indonesia. Lebih khusus lagi, demikian dara manis yang biasa dipanggil Mamay ini menjelaskan,  dengan halaqah ini kita dapat mengetahui dan memahami sejarah dan perkembangan tarekat yang ada di Cirebon dan sekitarnya. Setalah halaqah, dilanjutkan dengan tausiyah dan doa oleh Habib Quraisy Baharun dari Bangil, Jawa Timur, hingga  jam 13.00 WIB.[]
 
 

Add comment


Security code
Refresh

Resensi Buku

 

Bertemu dengan Para Pemikir Islam dalam Buku Pak Kiai

 Secara khusus, Kiai Husein hanya membahas tiga kitab dan ditambah dua sosok pemikir...

 

Nalar Islam Nusantara

Berdasarkan studi terhadap ormas-ormas Islam di Indonesia dapat diketahui adanya kecenderu...

Feed RSS

feed-image Feed

Add to Google

Statistik

Anggota : 438
Konten : 883
Web Link : 13
Jumlah Kunjungan Konten : 1230546

Yang Online

Kami memiliki 47 Tamu online

PEMBERITAHUAN: Alamat kantor kami yang semula di JL. SURATNO NO. 37 Cirebon, mulai Kamis, 08 Desember 2011 pindah di JL. SWASEMBADA NO. 15 MAJASEM - KARYAMULYA CIREBON JAWA BARAT 45132 Telp./Fax. 62-231-8301548